1. Lokasi Makam di Masjid Nabawi: Dekat Raudhah

Makam Rasulullah ﷺ terletak di sisi timur Raudhah, dalam kompleks Masjid Nabawi, Madinah. Lokasi ini dulunya adalah rumah beliau bersama Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha. Rasulullah ﷺ dimakamkan tepat di tempat wafatnya, sebagaimana sabda beliau: para nabi dimakamkan di tempat mereka wafat.

Kini, makam beliau berada di balik pagar kuningan tinggi berwarna emas kehijauan. Di balik pagar ini, terdapat tiga jendela kecil yang menunjukkan posisi makam Rasulullah ﷺ, Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan Umar bin Khattab.

Tempat ini menjadi titik ziarah penuh cinta dan rindu dari umat Islam. Ribuan jamaah berdiri khidmat, menyampaikan salam, dan meresapi kehadiran spiritual Rasulullah ﷺ dari balik pagar itu.

 

baca juga lainnya https://umrahbersamamu.com/2025/06/26/raudhah-taman-surga-di-dunia-yang-diidamkan-jamaah/

 

2. Sejarah Pemakaman Rasulullah dan Kedua Sahabat

Rasulullah ﷺ wafat pada Senin, 12 Rabi’ul Awwal tahun 11 H (632 M). Berdasarkan petunjuk beliau, beliau dimakamkan di kamar Sayyidah Aisyah. Abu Bakar Ash-Shiddiq dimakamkan di sisi kanan beliau, dan Umar bin Khattab kemudian dimakamkan di sisi kiri, atas izin Aisyah radhiyallahu ‘anha.

Ketiga makam ini berada dalam satu ruang yang disebut “Al-Hujrah Al-Nabawiyyah”. Para ulama menyebut area ini sebagai tempat paling mulia di muka bumi karena menjadi tempat peristirahatan manusia paling mulia.

Hadis yang menjadi pegangan:

“Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi memakan jasad para nabi.” (HR. Abu Dawud)

3. Adab Ziarah Makam Nabi: Niat, Salam, dan Doa

Ziarah ke makam Rasulullah ﷺ adalah bentuk ibadah, bukan wisata. Niatkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan menyampaikan salam cinta kepada Nabi ﷺ.

Ucapkan salam:

“Assalamu ‘alaika ayyuhan-Nabiyyu wa rahmatullahi wa barakatuh.”

Lanjutkan dengan salam kepada Abu Bakar dan Umar. Perbanyak shalawat dan doa untuk diri sendiri, keluarga, serta umat Islam.

Adab yang harus dijaga:

  • Tidak berdoa menghadap langsung ke makam
  • Tidak mengusap pagar atau menempelkan doa
  • Tidak berdesakan atau mendorong
  • Tidak berswafoto atau merekam video

Ziarah adalah momen ketundukan, bukan pertunjukan.

4. Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Ziarah

Beberapa kesalahan umum yang sering terjadi:

  • Berdoa langsung kepada Nabi: Ini bentuk kesyirikan. Doa hanya kepada Allah.
  • Menangis berlebihan atau histeris
  • Menyentuh pagar atau menulis doa di dinding
  • Membuat konten media (foto/vlog)
  • Bercanda atau berbicara keras

Jaga lisan, jaga hati, dan fokus pada makna ziarah: menghadirkan cinta dan keteladanan.

5. Waktu Terbaik Ziarah dan Tips Hindari Kerumunan

Waktu terbaik ziarah:

  • Setelah shalat Subuh (pagi hari)
  • Setelah Isya (malam hari)
  • Hari kerja (Senin – Kamis) umumnya lebih lengang

Tips praktis:

  • Satukan ziarah makam dengan jadwal Raudhah melalui aplikasi Nusuk
  • Hindari waktu antara Dzuhur dan Ashar
  • Untuk wanita, ikuti pengumuman waktu khusus ziarah dari petugas
  • Siapkan fisik dan fokus ibadah, bukan sekadar lokasi

 

Travel Pilihan https://naffartour.com/

 

6. Refleksi Jamaah: “Aku Menyapamu, Ya Rasul”

Bagi banyak jamaah, momen berada di sisi makam Rasulullah ﷺ adalah puncak emosional dari perjalanan umrah atau haji.

“Aku menyapamu, ya Rasul,” ucap seorang jamaah sambil berlinang air mata. “Aku datang membawa dosa dan rindu.”

Banyak yang merasa disapa balik meski tidak terdengar suara. Ada yang merasa terlalu kotor untuk menyapa, justru di situlah makna ziarah: menghadirkan hati yang hancur dan penuh harap.

Ziarah bukan tujuan akhir, melainkan awal perubahan. Pulang dari makam Nabi ﷺ seharusnya membawa semangat meneladani beliau. Karena ziarah yang benar, bukan hanya yang sampai ke makam, tapi yang menyentuh dan mengubah jiwa.