1. Menabung Selama Kuliah demi Umrah Pertama

Bagi kebanyakan mahasiswa, menunaikan ibadah umrah terasa seperti impian yang jauh. Namun tidak bagi Rizky, mahasiswa semester tujuh asal Yogyakarta, yang sejak awal kuliah sudah menanamkan tekad untuk berangkat ke Tanah Suci. Setelah mengikuti kajian tentang keutamaan umrah, ia mulai menyisihkan sebagian uang beasiswanya, mengurangi jajan, dan memasak sendiri di kos demi berhemat.

Ia juga aktif mencari pemasukan tambahan sebagai asisten dosen, freelance desain grafis, dan menjual merchandise dakwah online. Semua pendapatannya disimpan di rekening khusus yang ia beri nama “Tabungan Ka’bah”. Dalam vlog-nya, Rizky memperlihatkan catatan pemasukan dan target bulanan yang rapi dan terukur.

Godaan tentu datang—keinginan membeli barang-barang kekinian atau nongkrong bersama teman. Namun Rizky selalu kembali pada satu hal: wallpaper ponsel bergambar Ka’bah yang menjadi pengingat utama. “Teman-teman saya pilih liburan ke Eropa. Saya pilih pulang ke Baitullah,” ujarnya tegas.

 

Baca juga : Umrah Pertama Kalinya Naik Pesawat dan Keluar Negeri: Pengalaman yang Menggetarkan Hati

 

  1. Budget Minim: Tiket Promo, Hotel Murah, dan Makan Sederhana

Dengan dana terbatas, Rizky harus cermat dalam mengatur keuangan. Ia memanfaatkan komunitas backpacker Muslim dan grup Telegram umrah mandiri untuk mencari tiket promo jauh hari sebelumnya. Hasilnya, ia berhasil mendapatkan tiket Jakarta–Jeddah pulang-pergi dengan harga hemat.

Ia menginap di hotel budget sekitar 600 meter dari Masjidil Haram. Meski harus berjalan kaki setiap hari, Rizky justru merasa bersyukur karena bisa mengisi langkahnya dengan zikir. Untuk makanan, ia membeli nasi kapsa ukuran jumbo untuk dibagi dua kali makan, atau hanya makan roti dan kurma.

Perlengkapannya pun minimalis: dua gamis, satu celana panjang, dan sandal jepit. “Bukan soal gaya, tapi soal niat dan kenyamanan,” katanya dalam vlog sambil menunjukkan isi tas ransel ringkasnya. Bus umum antar kota ia pilih ketimbang travel eksklusif demi menekan biaya sekaligus menjalin interaksi dengan jamaah dari berbagai negara.

 

  1. Tantangan Awal: Tersesat tapi Tetap Tawakal

Hari pertama di Masjidil Haram membawa tantangan tak terduga. Rizky tersesat saat hendak kembali ke hotel usai salat Ashar. Ia sempat panik dan lelah, namun ia teringat doa Nabi Musa: “Ya Allah, lapangkanlah dadaku dan mudahkanlah urusanku.”

Dengan bertanya kepada jamaah Indonesia dan mengamati petunjuk arah, ia akhirnya menemukan jalan kembali. Dari pengalaman itu, Rizky belajar pentingnya mencatat pintu masuk masjid, menggunakan Google Maps offline, dan menyiapkan mental sejak awal.

Meski sempat grogi, Rizky tetap konsisten menjalankan salat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, dan menyendiri di lantai atas masjid untuk muhasabah. Kesederhanaan tidak menghalanginya untuk tetap khusyuk.

 

Baca Juga : Simpanan Umrah memudahkan semua orang dari berbagai kalangan berangkat Umrah

 

  1. Thawaf dan Sa’i: Sepatu Murah, Langkah Berharga

Momen thawaf menjadi klimaks spiritual yang tak terlupakan. Rizky mengenakan sandal jepit murah, gamis polos, tanpa aksesori apapun. Namun langkah-langkahnya penuh keyakinan. “Di sini semua sama. Kaya atau miskin, semua berdiri di hadapan Allah,” ucapnya sambil menahan tangis.

Setiap putaran thawaf diisi dengan doa pendek dan menyebut nama keluarga. Ia tidak membawa buku doa, hanya berdoa dari hati. Sa’i pun ia lalui dengan semangat, meski fisik lelah. Perjalanan dari Shafa ke Marwah menjadi simbol perjuangan hidup: naik, turun, namun tetap menuju tujuan.

Di ujung sa’i, Rizky terduduk dan menangis. “Sepatuku mungkin murah, tapi langkah ini Allah nilai mahal,” katanya dalam vlog dengan suara bergetar.

 

Baca Juga : Mau Umroh Aman Nyaman dengan Harga murah ?

 

  1. Catatan Harian: Dari Skripsi hingga Dialog Batin

Selama umrah, Rizky rajin menulis jurnal harian yang ia sebut “catatan skripsi hati”. Awalnya untuk keperluan skripsi bertema spiritualitas mahasiswa, tapi ternyata lebih banyak berisi refleksi pribadi.

Di Madinah, ia menulis tentang tenangnya salat di Raudhah, keramahan warga, dan malam-malam penuh doa. Di Makkah, catatannya dipenuhi kesan mendalam dari suara adzan subuh, air zamzam, dan momen-momen kecil yang menggetarkan hati.

Ia ingin menjadikan pengalaman ini sebagai bahan akademik sekaligus bekal hidup. “Ini bukan sekadar tugas akhir. Ini surat cinta antara hamba dan Rabb-nya,” tulis Rizky.

 

  1. Penutup: “Allah Tak Lihat Saldo, Tapi Lihat Niat”

Dalam penutupan vlog, Rizky menyampaikan pesan penuh makna untuk mahasiswa lainnya. Duduk bersila di kamar hotel sederhana, ia menatap kamera dan berkata, “Jangan tunggu kaya. Tunggu niatmu bulat.”

Ia mengajak generasi muda Muslim untuk mulai menabung, mengubah gaya hidup konsumtif, dan menjadikan umrah sebagai prioritas spiritual. “Tiket konser bisa sejuta. Tapi tiket ke surga, bisa kau cicil mulai hari ini.”

Vlog ditutup dengan kutipan favoritnya yang menyentuh: “Allah tidak melihat harga sepatumu, tapi ketulusan hatimu.” Sebuah kalimat yang mewakili seluruh perjuangan, kesederhanaan, dan cinta tulus seorang mahasiswa dalam perjalanan menuju Rumah Allah.