Ibadah umrah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad menjadi teladan utama bagi umat Islam. Menurut para ulama dan ahli hadits, Rasulullah melaksanakan empat kali umrah sepanjang hidupnya. Setiap perjalanan beliau menyimpan pelajaran tentang kesabaran, strategi dakwah, serta panduan ibadah yang penuh hikmah.
1. Umrah Pertama: Hudaibiyah (Ditolak Quraisy)
Pada tahun ke-6 Hijriah, Nabi Muhammad ﷺ berangkat dari Madinah bersama sekitar 1.400 sahabat menuju Makkah dengan niat umrah. Mereka mengenakan pakaian ihram dan membawa hewan kurban sebagai tanda kedamaian. Namun, kaum Quraisy menolak dan menghalangi mereka memasuki kota.
Peristiwa ini berujung pada Perjanjian Hudaibiyah, sebuah kesepakatan damai yang menetapkan bahwa umat Islam baru boleh melaksanakan umrah pada tahun berikutnya. Meskipun secara fisik umrah belum terlaksana, niat dan usaha Nabi ﷺ serta para sahabat tetap tercatat sebagai ibadah yang besar nilainya.
2. Umrah Qadha: Umrah yang Terlaksana Setahun Kemudian
Tepat setahun setelah Hudaibiyah, pada tahun ke-7 Hijriah, Rasulullah ﷺ kembali ke Makkah dengan 2.000 sahabat untuk menunaikan Umrah Qadha. Ini adalah umrah pertama yang benar-benar dilaksanakan secara fisik.
Kaum Quraisy mematuhi isi perjanjian dan mengosongkan kota selama tiga hari, sehingga Nabi ﷺ dan para sahabat dapat melaksanakan thawaf, sa’i, dan tahallul dengan tenang. Umrah ini menjadi simbol ketaatan, kesabaran, dan janji Allah yang ditepati.
3. Umrah Ji’ranah: Pasca Perang Hunain
Setelah meraih kemenangan dalam Perang Hunain pada tahun ke-8 Hijriah, Nabi Muhammad ﷺ melakukan ihram dari Ji’ranah — sebuah miqat yang terletak antara Thaif dan Makkah. Beliau kemudian menunaikan umrah sebagai bentuk syukur kepada Allah.
Meski dalam kondisi sibuk pascaperang, Rasulullah ﷺ tetap mengutamakan ibadah. Ini menjadi pelajaran bahwa kedekatan kepada Allah tetap harus dijaga dalam segala situasi.
4. Umrah dalam Haji Wada’: Umrah Terakhir Nabi
Pada tahun ke-10 Hijriah, Rasulullah ﷺ melaksanakan Haji Wada’. Dalam kesempatan itu, beliau memilih jenis haji qiran, yaitu menggabungkan haji dan umrah dalam satu ihram. Meskipun tidak berdiri sendiri, umrah ini tetap dihitung sebagai salah satu dari empat umrah yang beliau tunaikan.
Haji Wada’ menjadi momen monumental dalam sejarah Islam. Selain mengajarkan praktik ibadah secara langsung kepada lebih dari 100.000 sahabat, Nabi ﷺ juga menyampaikan khutbah perpisahan yang menyentuh hati.
5. Hikmah dari Umrah-Umrah Nabi
Empat umrah Rasulullah ﷺ mengandung pelajaran penting:
- Niat baik tidak pernah sia-sia.
- Kesabaran dalam ibadah adalah kunci keberkahan.
- Umrah dapat dilakukan dalam berbagai konteks: damai, ketegangan, bahkan bersamaan dengan haji.
- Menjaga adab dan ketulusan dalam setiap perjalanan ibadah.
Setiap umrah yang beliau lakukan menjadi contoh konkrit bagi umat Islam untuk menghidupkan makna ibadah bukan hanya secara fisik, tapi juga spiritual.
6. Ringkasan: Empat Umrah Nabi Muhammad ﷺ
Para ulama seperti Imam Nawawi dan Ibnu Hajar al-Asqalani menyebutkan empat umrah Nabi ﷺ sebagai berikut:
- Umrah Hudaibiyah (6 H) → diniatkan tapi tertunda.
- Umrah Qadha (7 H) → terlaksana sesuai perjanjian.
- Umrah Ji’ranah (8 H) → pasca Perang Hunain.
- Umrah Haji Wada’ (10 H) → bersamaan dengan haji qiran.
Dengan memahami sejarah ini, kita sebagai umat Islam akan lebih menghargai nilai spiritual dari umrah. Ibadah ini bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan hati untuk lebih dekat dengan Allah dan meneladani Rasulullah ﷺ dalam setiap langkahnya.