Perjalanan umrah adalah momen puncak dalam kehidupan seorang Muslim—sebuah kesempatan emas untuk mendekatkan diri kepada Allah di Tanah Suci. Namun, di tengah semangat ibadah yang tinggi, sering kali muncul gesekan kecil di antara jamaah akibat perbedaan fiqih. Perbedaan bacaan doa, posisi tangan saat shalat, atau urutan ziarah kadang menjadi bahan perdebatan yang tidak perlu.
Artikel ini mengajak jamaah untuk menyikapi perbedaan dengan ilmu dan akhlak, bukan emosi dan arogansi. Karena sesungguhnya, umrah bukanlah tempat berdebat, tapi tempat untuk menyempurnakan ketundukan dan cinta kepada Allah.
1. Fokus pada Inti Ibadah dan Keikhlasan
Tanah Suci adalah tempat untuk mendekat, bukan mendebat. Umrah mengajak hati untuk larut dalam dzikir, doa, dan penghambaan total, bukan sibuk mengoreksi orang lain. Alih-alih mempermasalahkan doa thawaf yang tidak sesuai selera kita, lebih baik maksimalkan momen itu dengan doa yang keluar dari hati. Daripada sibuk mengamati posisi tangan orang lain saat shalat, lebih baik perbaiki kekhusyukan dan isi shalat kita sendiri.
Jangan lupa, Allah menilai keikhlasan, bukan sekadar bentuk luar. Mari jadikan umrah sebagai ladang untuk membersihkan diri, bukan memperkeruh suasana. Setiap orang membawa harapan dan luka masing-masing ke Tanah Suci—tidak perlu kita tambah beban mereka dengan komentar yang menyakitkan.
2. Menghormati Perbedaan Pendapat Ulama
Perbedaan pendapat dalam fiqih adalah sesuatu yang wajar dan telah ada sejak zaman sahabat. Islam justru kaya dengan mazhab yang diakui, seperti Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Perbedaan cara dalam ibadah umrah—seperti tata cara ihram, urutan thawaf, atau doa-doa—selama ada landasan ilmiah yang sah, semuanya diterima.
Jangan cepat menghakimi. Mungkin jamaah yang terlihat “berbeda” justru mengikuti mazhab yang benar menurut pendidikannya. Hormatilah keragaman itu, sebagaimana para ulama saling menghargai dalam perbedaan. Jika penasaran, bertanyalah dengan sopan. Jadikan perbedaan sebagai momen belajar, bukan arena debat. Kedewasaan dalam beragama justru tampak saat kita mampu bersikap lapang hati terhadap variasi yang sah.
3. Hindari Sikap Merendahkan Sesama Jamaah
Merasa lebih benar dari orang lain bisa jadi merupakan kesombongan terselubung. Ketika kita mulai merendahkan jamaah lain karena praktik ibadahnya terlihat “kurang tepat”, saat itu kita sedang diuji oleh rasa ujub. Padahal banyak jamaah yang mungkin baru pertama kali ke Tanah Suci, belum banyak belajar, atau hanya mengikuti arahan pembimbing. Kalau pun ingin memberi saran, sampaikan dengan lemah lembut dan penuh hikmah. Islam tidak mendorong koreksi yang menyakitkan, tapi menganjurkan dakwah yang bijak dan menghormati martabat orang lain.
Ingat, kita semua di hadapan Ka’bah adalah hamba yang sedang mencari rahmat Allah. Tidak ada yang lebih tinggi, semua datang dalam keadaan hina dan berharap ampunan. Maka, rendah hatilah, bukan merendahkan.
4. Miliki Rujukan Ilmu yang Jelas
Agar tidak mudah goyah oleh informasi simpang siur atau sikap fanatik, penting bagi jamaah untuk mempunyai pegangan ilmu fiqih yang jelas dan terpercaya sebelum berangkat. Ikutilah manasik dari ustadz yang berkompeten dan moderat, yang mengajarkan fiqih berdasarkan sumber shahih dan menanamkan adab di atas ego. Jangan terlalu mudah percaya pada potongan video dakwah atau diskusi grup WhatsApp yang belum tentu kredibel.
Rujukan yang benar akan membuat kita tenang dalam menjalankan ibadah. Kita tahu apa yang wajib, sunnah, dan mana yang boleh berbeda. Dengan begitu, kita tidak mudah menyalahkan dan tetap menghormati jamaah lain yang berbeda praktiknya.
5. Jaga Persatuan Umat di Tanah Suci
Tanah Suci adalah tempat berkumpulnya umat Islam dari seluruh penjuru dunia. Perbedaan budaya, bahasa, mazhab, hingga gaya ibadah adalah hal yang tak terelakkan. Tapi justru di sinilah ujian ukhuwah Islamiyah itu nyata.
Tahan diri dari komentar atau perdebatan tak penting. Bersikap ramah, membantu sesama jamaah, dan menjaga suasana damai lebih mencerminkan kemuliaan Islam daripada sibuk berargumen di pelataran Ka’bah. Bahkan Rasulullah ﷺ melarang perdebatan di sekitar Ka’bah karena dapat mengganggu kekhusyukan ibadah.
Umrah bukan hanya ibadah individu, tapi juga panggung kesatuan umat. Jadilah bagian dari yang menyatukan, bukan yang memecah. Karena sesungguhnya, ukhuwah dan kasih sayang lebih menunjukkan kedewasaan beragama daripada menang debat fiqih.
Penutup: Kedewasaan Iman Tercermin dari Adab
Umrah adalah ibadah hati, bukan ajang adu pendapat. Di Tanah Suci, kita diajak untuk menundukkan ego, merawat ukhuwah, dan menyempurnakan ibadah dalam suasana damai. Berbeda bukan berarti salah, dan menyalahkan bukan tugas kita. Biarlah kekhusyukan menjadi fokus utama, dan adab menjadi bingkai setiap interaksi. Karena semakin tinggi ilmu dan keimanan seseorang, semakin lembut pula sikapnya terhadap sesama.