Tak hanya itu, ada juga dukungan diam-diam dari guru mereka yang suatu hari mengetahui usaha ini dan ikut menyumbang tanpa nama. Selama dua tahun, dana itu terus tumbuh, perlahan tapi pasti, hingga cukup untuk mendaftar program umrah pelajar di awal 2025.

Pertama Kali Menyentuh Ka’bah Bersama

Saat akhirnya tiba di Makkah, suasana begitu menggetarkan. Di hadapan Ka’bah, lima sahabat itu menangis sambil saling menggenggam tangan. Ini bukan hanya soal pencapaian spiritual, tapi juga tentang harapan yang dikumpulkan dari serpihan keringat dan kesabaran.

Mereka thawaf bersama-sama, mengikuti jejak jutaan umat, tapi dengan cerita yang berbeda: cerita perjuangan dari mushola kecil pesantren. Tak ada kamera mahal atau travel mewah—yang ada hanya kain ihram, air mata syukur, dan doa-doa tulus yang mengalir tanpa diskenario.

Setiap langkah di Masjidil Haram menjadi bukti bahwa Allah tak pernah menutup jalan bagi hamba yang bersungguh-sungguh. Mereka merasa lebih dekat kepada-Nya, dan kepada satu sama lain.

Doa untuk Persahabatan yang Abadi

Di Multazam, masing-masing dari mereka menyampaikan doa pribadi. Namun ada satu doa yang mereka lafalkan bersama: agar persahabatan ini abadi, dunia dan akhirat. Mereka tahu bahwa setelah kelulusan nanti, hidup akan membawa mereka ke tempat yang berbeda. Tapi mereka ingin terus terikat dalam niat dan iman.

Beberapa berdoa agar bisa kembali ke Tanah Suci bersama keluarga, yang lain berdoa agar kelak mereka bisa membangun pesantren sendiri. Tapi yang paling penting: mereka ingin tetap jadi pengingat satu sama lain, dalam iman dan amal.

Doa itu menjadi simbol betapa ibadah bukan hanya hubungan vertikal dengan Allah, tapi juga memperkuat hubungan horizontal—dengan sahabat, guru, dan masyarakat sekitar.

Pulang dengan Ikatan Persaudaraan yang Lebih Kuat

Kepulangan mereka disambut dengan takbir dan tangis haru. Para guru bangga, adik kelas terinspirasi, dan orang tua tak berhenti bersyukur. Mereka pun diminta untuk menceritakan perjalanan umrah mereka di pengajian akbar pesantren.

Bagi mereka, pengalaman itu bukan hanya kisah indah masa muda, tapi fondasi untuk kehidupan penuh makna di masa depan. Hubungan mereka semakin erat. Mereka tetap saling menyapa meski telah berpisah kampus, saling kirim doa setiap malam Jumat, dan saling menagih kebaikan di masa-masa futur.

Kini, sebagian dari mereka menjadi pengajar, sebagian menjadi wirausahawan, dan yang lain sedang menuntut ilmu di luar negeri. Tapi semua sepakat bahwa perjalanan umrah bareng sahabat asrama adalah awal dari hidup baru yang lebih bertauhid, lebih bersyukur, dan lebih mencintai ukhuwah.