Bagi sebagian orang, umrah mungkin hanya persoalan waktu dan dana. Namun, bagi mereka yang hidup dari penghasilan harian seperti sopir angkot, mimpi untuk menyentuh Ka’bah seringkali terasa mustahil. Artikel ini mengisahkan perjuangan Pak Darto, seorang sopir angkot jurusan Cimahi–Leuwi Panjang, yang perlahan mengumpulkan receh demi receh untuk mewujudkan cita-citanya menjadi tamu Allah. Di tengah kehidupan keras jalanan, ia membuktikan bahwa niat yang tulus, kerja keras, dan kejujuran bisa membuka jalan ke Tanah Suci. Sebuah inspirasi tentang bagaimana iman tetap bisa tumbuh di balik setir dan debu jalanan.
1. Mengumpulkan Setoran Sambil Menabung Umrah
Bagi Pak Darto, hidup sebagai sopir angkot adalah rutinitas panjang yang dimulai sebelum fajar. Sejak subuh, ia sudah bersiap di balik kemudi, menunggu penumpang pertama sambil menghitung target setoran harian. Tapi jauh di dalam hatinya, ada satu impian yang diam-diam ia pupuk: menjadi tamu Allah dan mencium Ka’bah dengan tangan sendiri.
Impian itu muncul dari obrolan ringan di pangkalan. Seorang rekan pernah berkata,
“Kalau kita bisa antar orang keliling kota tiap hari, masa nggak bisa ke Makkah, bawa doa sendiri?”
Kata-kata itu menancap di benaknya. Sejak saat itu, Pak Darto mulai menabung dari sisa uang harian: lima ribu, dua ribu, bahkan recehan ia kumpulkan dalam botol bekas. Tak jarang tabungan itu terpakai saat anaknya sakit atau angkotnya harus servis. Tapi ia tak pernah berhenti.
“Lambat, tapi Allah tahu niat saya,” katanya.
Ia percaya, umrah bukan hanya untuk orang berlebih, tapi juga untuk mereka yang bersungguh-sungguh.
2. Kehidupan Keras yang Membentuk Keteguhan
Menjadi sopir angkot artinya siap menghadapi apa pun: penumpang marah, preman terminal, kemacetan, hingga razia mendadak. Tapi kehidupan keras itu justru membentuk keteguhan hati Pak Darto.
Pernah ia dihadapkan pada pilihan sulit: melanjutkan tabungan umrah atau memperbaiki mesin mobil. Ia memilih memperbaiki angkotnya.
“Kalau mobil mogok, saya nggak bisa narik. Kalau nggak narik, ya nggak bisa nabung.”
Prinsipnya sederhana: mencari rezeki yang halal tanpa tipu muslihat. Ia menolak ajakan membawa muatan ilegal atau “ngetem” sembarangan.
“Kalau saya mau jadi tamu Allah, jalannya juga harus bersih,” ujarnya mantap.
Kejujuran dan kesabaran itulah yang akhirnya membuka jalan—hingga bantuan dari komunitas sopir dan keluarga datang menghampirinya. Ia pun bersiap menapaki Tanah Suci.
3. Syukur Tak Terucap Saat Menatap Ka’bah
Saat kaki Pak Darto menjejak pelataran Masjidil Haram, air matanya langsung tumpah. Ia berdiri terpaku, lalu bersujud lama.
“Ya Allah, sopir angkot-Mu ini akhirnya sampai juga,” gumamnya dengan suara tercekat.
Ia mengingat jalanan panas dan berdebu, klakson rusak, mesin yang pernah mogok, dan kini semua lelah itu seakan terbayar. Dengan baju ihram pinjaman dan sandal sederhana, ia menyentuh Kiswah—kain hitam suci Ka’bah—dengan tangan yang selama ini memegang setir dan uang receh.
Ia tidak merasa rendah diri di antara jamaah berpenampilan mewah. Baginya, berdiri di depan Ka’bah adalah prestasi terbesar dalam hidup—bukti bahwa Allah tidak melihat status, tapi keikhlasan hati.
4. Doa untuk Jalan yang Aman dan Rezeki yang Halal
Di setiap sujudnya, doa Pak Darto sederhana tapi penuh makna. Ia tak meminta harta melimpah atau kedudukan tinggi. Ia hanya memohon:
“Ya Allah, lindungi saya saat membawa penumpang. Jauhkan dari celaka di jalan. Cukupkan rezekiku agar anak-anak bisa sekolah dari uang yang halal.”
Ia juga menyebut satu per satu nama teman pangkalannya. Di Raudhah, ia menangis menyebut mereka, berharap Allah juga memberi mereka kesempatan menginjakkan kaki di tempat suci.
“Mereka keras, tapi hatinya lembut. Tolong panggil juga mereka ke sini, ya Allah,” ucapnya pelan.
Baginya, doa bukan hanya tentang dirinya, tapi juga untuk orang-orang yang menemani hidupnya di balik setir dan lampu merah. Ia ingin semua merasakan manisnya berserah di rumah Allah.
5. Pulang dengan Hati yang Lebih Bersih
Sekembalinya ke tanah air, Pak Darto tetap menjadi sopir angkot. Namun, ada yang berbeda. Ia lebih tenang menghadapi macet, lebih sabar menghadapi penumpang, dan lebih sering tersenyum.
Kini, murotal dan doa rutin terdengar dari dalam angkotnya. Ia tak segan mengajak penumpang ngobrol ringan soal agama. Ia juga sering berbagi cerita ke anak-anak muda di terminal, menyemangati mereka agar tak kehilangan arah.
“Saya ini bukan orang pintar, bukan orang kaya. Tapi saya yakin, kalau jujur dan sabar, Allah pasti bukakan jalan,” katanya merendah.
Di kaca belakang angkotnya, tertempel stiker bertuliskan:
“Sudah ke Ka’bah, Semoga Rezeki Tetap Berkah.”
Itu bukan sekadar kalimat hiasan, tapi pengingat bahwa meski ia kembali ke jalanan dunia, hatinya kini mantap di jalan Allah.