Indonesia dikenal sebagai negara dengan jumlah jamaah umrah terbesar di dunia, dan mereka datang dari latar belakang yang sangat beragam, termasuk dari daerah-daerah yang tidak terbiasa menggunakan bahasa Indonesia formal dalam kehidupan sehari-hari. Fakta ini mengharuskan penyelenggara manasik dan travel umrah untuk lebih peka dan responsif dalam menyampaikan materi edukasi. Tanpa penerjemahan yang tepat, pesan-pesan penting seputar rukun, wajib, dan tata cara ibadah bisa salah dimengerti—bahkan berisiko membatalkan umrah.

1. Fakta: Banyak Jamaah Masih Minim Bahasa Indonesia Formal

Tidak semua jamaah umrah mahir memahami bahasa Indonesia dalam bentuk baku. Di daerah pedesaan atau wilayah dengan bahasa ibu yang kuat seperti Jawa, Sunda, Bugis, atau Batak, banyak jamaah yang:

  • Lebih nyaman mendengar penjelasan dalam bahasa daerah

  • Bingung saat mendengar istilah fiqih atau kata-kata teknis

  • Malu bertanya karena merasa “tidak pintar”

Akibatnya, sesi manasik bisa terasa seperti ceramah kosong: dipenuhi istilah yang tak dimengerti dan direspon dengan anggukan yang sebenarnya hanya basa-basi.

2. Dampak Kesalahan Pemahaman karena Bahasa

Kesalahan dalam memahami bahasa bisa berujung pada kesalahan ibadah. Misalnya:

  • Jamaah tidak tahu kapan niat ihram harus diucapkan karena instruksi hanya dijelaskan cepat dalam bahasa formal

  • Bingung membedakan antara tahallul dan tahalul

  • Tidak paham istilah seperti “dam”, “miqat”, atau “larangan ihram”

Ini bukan sekadar soal miskomunikasi, tapi bisa berdampak pada keabsahan ibadah. Maka, penyampaian manasik tidak boleh hanya sekadar benar dari sisi konten, tapi juga harus bisa dipahami oleh audiensnya.

3. Travel Wajib Menyediakan Materi dalam Bahasa Lokal

Travel umrah yang profesional dan inklusif seharusnya:

  • Menerjemahkan modul manasik ke dalam bahasa daerah seperti Jawa, Sunda, Bugis, Madura, atau Banjar

  • Menyediakan slide presentasi bilingual atau ringkasan doa dan tata cara dalam bahasa ibu jamaah

  • Menyesuaikan istilah asing dengan padanan kata lokal (misalnya “tahalul” bisa dijelaskan sebagai “potong rambut sebagai tanda selesai umrah”)

Dengan pendekatan ini, travel tidak hanya dianggap profesional, tapi juga peduli terhadap kebutuhan jamaah.

4. Peran Relawan Penerjemah saat Manasik dan di Tanah Suci

Selain materi tertulis, peran penerjemah lisan sangat penting. Travel bisa menggandeng:

  • Ustadz atau tokoh lokal yang bisa menjelaskan dengan bahasa daerah

  • Relawan muda yang memahami istilah agama dan mampu menjembatani jamaah dengan pembimbing

  • Pendamping khusus lansia dari daerah terpencil

Saat di Tanah Suci, relawan ini sangat membantu saat pembagian kamar, penjelasan jadwal, atau saat thawaf dan sa’i. Mereka menjadi penyambung antara informasi dan pemahaman yang menyelamatkan kualitas ibadah.

5. Pentingnya Bahasa Hati untuk Pemahaman Rukun Ibadah

Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tapi juga jembatan menuju hati. Kadang jamaah baru benar-benar tersentuh dan memahami ibadah saat penjelasannya disampaikan dalam bahasa yang mereka cintai. Bahasa ibu membawa kedekatan emosional yang membuat pesan terasa lebih dalam.

Misalnya: saat menjelaskan tentang doa di Multazam, menggunakan bahasa daerah yang halus dan menyentuh bisa membuat jamaah lebih meresapi makna doa, bukan sekadar menghafal lafaz Arab yang tidak dipahami artinya.

6. Kolaborasi dengan Kiai atau Tokoh Lokal untuk Adaptasi Bahasa

Travel bisa menggandeng:

  • Kiai kampung

  • Tokoh adat

  • Pengajar pondok pesantren lokal

…untuk menyusun dan menyampaikan materi manasik dalam format yang akrab bagi komunitas lokal. Mereka tahu cara menyampaikan dengan gaya tutur khas daerah yang tidak kaku, dan mampu membuat jamaah nyaman bertanya atau berdiskusi.

Ini bukan hanya strategi edukatif, tapi juga bentuk penghormatan terhadap kearifan lokal dan keberagaman budaya umat.