Umrah adalah ibadah mulia yang dilaksanakan langsung di tanah suci, namun justru karena kemuliaannya, umrah bisa menjadi medan ujian bagi hati. Tak jarang, semangat ibadah tercampur dengan keinginan untuk dilihat atau dipuji. Riya dan sum’ah—dua penyakit hati yang berbahaya—dapat menyusup tanpa disadari, terlebih saat dokumentasi, update media sosial, atau cerita sepulang umrah dilakukan tanpa kontrol niat. Artikel ini mengajak kita merenungi cara menjaga keikhlasan, agar umrah benar-benar menjadi persembahan eksklusif hanya untuk Allah ﷻ.
Bahaya Riya dan Sum’ah dalam Ibadah
Riya adalah melakukan ibadah dengan maksud agar dilihat manusia, sementara sum’ah adalah memperdengarkan amal agar dipuji. Keduanya bukan hanya merusak pahala, tetapi juga mendatangkan murka Allah ﷻ. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman:
“Aku paling tidak butuh pada sekutu. Siapa yang melakukan suatu amal dan menyekutukan Aku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia dan sekutunya.” (HR. Muslim)
Saat seseorang melakukan umrah agar bisa bercerita panjang lebar kepada teman, memamerkan foto di depan Ka’bah, atau sekadar demi status sosial, maka ia berada di wilayah rawan riya. Ibadah yang seharusnya suci menjadi ternoda oleh niat yang salah. Bahkan, sebagian ulama menyebut riya adalah syirik kecil, yang jika tidak disadari, bisa menghancurkan seluruh amal.
Cara Mengenali Gejala Riya Saat Umrah
Riya bukan hanya soal niat awal, tapi juga bisa muncul di tengah atau bahkan setelah ibadah selesai. Di antara tanda-tanda riya saat umrah antara lain:
- Merasa kecewa jika tidak bisa mengunggah foto umrah yang menarik.
- Lebih bersemangat ketika ada orang melihat ibadahnya.
- Terpikir untuk membandingkan diri dengan jamaah lain dalam hal ibadah.
- Memiliki dorongan kuat untuk menceritakan amal ibadah kepada banyak orang.
Gejala-gejala ini tampak sepele, namun jika dibiarkan, bisa menjadikan hati semakin jauh dari keikhlasan. Oleh karena itu, introspeksi niat secara berkala selama perjalanan umrah sangat penting. Hati manusia sangat dinamis, dan hanya dengan terus-menerus memperbaharui niat, kita bisa menjaga ketulusan dalam beribadah.
Niat yang Lurus sebagai Pondasi Utama
Niat adalah fondasi seluruh amal, sebagaimana sabda Nabi ﷺ: “Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam konteks umrah, niat bukan hanya diucapkan saat miqat, tetapi juga dipelihara dalam hati selama seluruh rangkaian ibadah berlangsung.
Meluruskan niat berarti memastikan bahwa tujuan utama umrah adalah mencari ridha Allah, bukan ridha manusia. Bahkan, semakin tersembunyi amal seseorang, semakin besar nilainya di sisi Allah.
Sebelum berangkat, biasakan untuk membaca doa seperti: “Ya Allah, jadikan umrahku ini murni karena-Mu, jauhkan aku dari sifat riya dan sum’ah.” Lalu selama umrah, perbarui niat setiap kali memulai aktivitas ibadah: saat thawaf, sa’i, shalat di Masjidil Haram, dan doa di Multazam.
Menjaga Ibadah Tetap Tersembunyi dan Ikhlas
Salah satu langkah konkret menjaga diri dari riya adalah dengan merahasiakan sebagian amal. Tidak semua momen perlu didokumentasikan. Tidak semua cerita umrah harus dibagikan. Menyembunyikan sebagian amal adalah cara menjaga hubungan privat dengan Allah.
Jika ingin mengabadikan momen, niatkan sebagai bentuk syukur atau dakwah, bukan untuk pamer. Jangan mengunggah foto semata-mata demi validasi sosial. Cukupkan diri dengan Allah yang tahu, bukan dunia yang memuji.
Ulama salaf terdahulu bahkan mengatakan, “Jika engkau bisa menyembunyikan amal sebagaimana engkau menyembunyikan dosa, maka lakukanlah.” Prinsip ini sangat relevan, terlebih dalam era digital saat ini.
Membangun Rasa Takut dan Harap Hanya kepada Allah
Untuk menjaga keikhlasan, seorang hamba harus hidup dalam keseimbangan khauf (takut) dan raja’ (harap). Takut jika amalnya ditolak karena riya, dan berharap agar Allah menerima amalnya dengan rahmat dan ampunan.
Dalam setiap langkah ibadah umrah, hadirkan perasaan butuh kepada Allah. Jangan merasa puas hanya karena telah menyelesaikan ritual. Yang terpenting bukan “sudah berangkat”, tapi “apakah Allah menerimanya?”
Perbanyaklah doa seperti: “Ya Allah, terimalah amal ini, walau aku masih penuh kekurangan.” Kesadaran bahwa hanya Allah yang menilai akan membantu kita menjauhi keinginan untuk dilihat oleh selain-Nya.
Umrah sebagai Latihan Keikhlasan Sejati
Umrah bukan hanya ritual fisik, tetapi juga latihan mental dan spiritual. Ia menjadi tempat untuk melatih keikhlasan, membiasakan diri menyembunyikan amal, dan memperkuat relasi personal dengan Allah.
Saat seseorang bisa menahan diri dari riya selama umrah, maka ia sudah membuat pencapaian ruhani yang besar. Dan lebih dari itu, keikhlasan selama umrah akan terbawa ke dalam kehidupan sehari-hari—baik dalam shalat, sedekah, dakwah, maupun pekerjaan sosial.
Sebagaimana Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa amal yang paling dicintai Allah adalah yang paling ikhlas dan paling sesuai sunnah. Maka, pastikan ibadah umrah tidak hanya sah secara fikih, tapi juga bersih secara hati.