Banyak jamaah berangkat umrah dengan semangat yang tinggi, tetapi tidak semua memahami betul bagaimana menjalankan ibadah ini sesuai dengan sunnah Rasulullah ﷺ. Di sinilah pentingnya merujuk kepada hadits-hadits shahih, seperti yang termuat dalam Shahih At-Targhib wa At-Tarhib karya Syaikh Al-Albani. Buku ini menghimpun hadits-hadits pilihan tentang keutamaan dan amalan yang dianjurkan dalam berbagai ibadah, termasuk haji dan umrah. Kajian ini mengajak kita memahami umrah tidak sekadar sebagai ritual, tetapi sebagai ibadah penuh makna dan pahala, jika dilakukan sesuai petunjuk Nabi ﷺ.
Hadits-Hadits Shahih tentang Anjuran Haji dan Umrah (No. 1110–1119)
Dalam Shahih At-Targhib, pada bab keutamaan haji dan umrah, disebutkan hadits-hadits nomor 1110 sampai 1119 yang memotivasi umat Islam untuk menunaikan kedua ibadah ini dengan sungguh-sungguh. Di antara yang paling dikenal adalah hadits:
“Antara umrah satu ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa-dosa di antara keduanya, dan haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR. Bukhari & Muslim).
Hadits ini menegaskan bahwa umrah memiliki kekuatan spiritual yang luar biasa, yakni sebagai penebus dosa. Dalam hadits lain (no. 1111), disebutkan bahwa orang yang menunaikan haji atau umrah termasuk tamu-tamu Allah. Ini menunjukkan kemuliaan posisi jamaah di sisi Allah, jika niat dan pelaksanaannya benar.
Syaikh Al-Albani dalam penjelasannya menyatakan bahwa semua hadits di bagian ini memiliki derajat shahih dan hasan, sehingga bisa dijadikan dalil kuat dalam motivasi berumrah. Ia juga menekankan pentingnya meluruskan niat agar tidak sekadar melancong, tetapi sungguh-sungguh menghadirkan ruh ibadah.
Kajian ini membuka mata kita bahwa setiap langkah dalam umrah, bila diiringi dengan ilmu dan keikhlasan, memiliki bobot pahala besar yang mungkin selama ini belum disadari oleh banyak jamaah.
Penjelasan Ulama tentang Keutamaan Haji dan Umrah Berulang
Sebagian ulama berpendapat bahwa menunaikan umrah berulang kali memiliki nilai pahala yang besar, terutama jika dilakukan tanpa mengabaikan kewajiban sosial lainnya. Dalam banyak riwayat, para sahabat dan tabi’in sering mengulang umrah sebagai bentuk pengabdian dan penyucian diri.
Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni menyebutkan bahwa tidak ada batasan jumlah umrah yang boleh dilakukan, selama tidak menyebabkan kelelahan atau melalaikan kewajiban lain. Pendapat ini juga sejalan dengan praktik Sayyidina Umar dan Aisyah radhiyallahu ‘anhuma yang pernah menunaikan umrah lebih dari satu kali dalam setahun.
Namun, ulama juga mengingatkan agar tidak menjadikan ibadah umrah sebagai ajang prestise atau rutinitas kosong. Umrah berulang menjadi ibadah yang diridhai bila setiap pelaksanaannya dilandasi niat taqarrub kepada Allah, bukan sekadar wisata religius.
Banyak jamaah yang merasa bahwa umrah kedua atau ketiga justru lebih khusyuk karena pengalaman pertama menjadi pelajaran. Inilah hikmah umrah berulang: memperdalam kesadaran, memperbaiki praktik, dan menguatkan cinta kepada Allah.
Sunnah yang Sering Dilupakan Saat Menjalankan Umrah
Dalam praktik umrah, ada beberapa sunnah yang sering dilupakan atau dianggap tidak penting oleh sebagian jamaah. Misalnya, berangkat dalam keadaan berwudhu, masuk Masjidil Haram dengan kaki kanan sambil membaca doa masuk masjid, atau memperbanyak dzikir dan doa saat thawaf tanpa harus sibuk merekam video atau selfie.
Salah satu sunnah yang juga banyak terabaikan adalah shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim setelah thawaf. Sebagian jamaah langsung lanjut ke sa’i tanpa mencari tempat untuk shalat sunnah tersebut, padahal Rasulullah ﷺ melakukannya dan menyarankannya jika memungkinkan.
Sunnah lain yang sering luput adalah memperbanyak doa di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad dengan doa “Rabbana atina fiddunya hasanah…” serta membaca dzikir sepanjang sa’i seperti takbir, tahlil, dan doa istighfar.
Menghidupkan sunnah berarti meneladani Nabi ﷺ dalam setiap detail ibadah. Saat jamaah mengetahui dan berusaha mengamalkannya, bukan hanya ibadah yang jadi lebih sempurna, tetapi juga menunjukkan rasa cinta dan penghormatan kepada Rasulullah ﷺ.
Keutamaan Bersabar dan Memperbanyak Doa Selama Umrah
Salah satu pelajaran paling nyata dari umrah adalah latihan sabar. Ibadah ini penuh dengan antrean, keramaian, dan terkadang kelelahan fisik yang cukup berat, terutama bagi jamaah lansia atau saat umrah dilakukan di musim panas. Dalam kondisi seperti ini, sabar menjadi amalan utama.
Dalam hadits no. 1117–1119 dari Shahih At-Targhib, disebutkan bahwa orang yang bersabar di jalan Allah, terutama saat haji dan umrah, akan diberi pahala besar dan dicatat sebagai mujahid fi sabilillah. Ini menegaskan bahwa tantangan dalam perjalanan ibadah adalah bagian dari amal itu sendiri.
Selain sabar, memperbanyak doa menjadi sunnah yang sangat dianjurkan. Waktu di Masjidil Haram, saat thawaf, di Multazam, di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad—semua adalah tempat mustajab untuk memohon kepada Allah.
Jamaah yang mengisi umrahnya dengan doa-doa tulus biasanya merasakan perubahan hati. Mereka merasa lebih dekat kepada Allah, lebih lapang dalam menerima takdir, dan lebih kuat menjalani kehidupan setelah pulang.
Amalan Utama di Masjidil Haram dan Nabawi Menurut Hadits
Masjidil Haram dan Masjid Nabawi memiliki keutamaan tersendiri. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa satu shalat di Masjidil Haram lebih utama daripada 100.000 shalat di masjid lain. Sedangkan di Masjid Nabawi, satu shalat setara dengan 1.000 kali shalat biasa. (HR. Ahmad, Bukhari, dan Muslim)
Oleh karena itu, memperbanyak shalat fardhu dan sunnah di kedua masjid ini sangat dianjurkan. Selain itu, memperbanyak membaca Al-Qur’an, berdzikir, dan melakukan i’tikaf menjadi amalan yang besar pahalanya.
Di Masjid Nabawi, Raudhah menjadi salah satu tempat paling dicari oleh jamaah. Meski penuh dan harus bergantian, berdoa di tempat yang disebut sebagai taman surga ini menjadi momen spiritual yang sangat mendalam.
Di Masjidil Haram, thawaf sunnah setelah umrah juga sangat dianjurkan, bahkan bisa dilakukan setiap hari. Rasulullah ﷺ senang melakukan thawaf dan menganjurkan umatnya untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak dzikir dan shalat di sekitar Ka’bah.
Pentingnya Memahami Hadits dalam Membentuk Niat Ibadah
Salah satu kesalahan umum adalah melaksanakan ibadah hanya berdasarkan kebiasaan atau mengikuti rombongan tanpa memahami esensi dan dasar syariatnya. Padahal, memahami hadits shahih sangat penting agar ibadah kita sah, bernilai, dan tidak keluar dari tuntunan Nabi ﷺ.
Niat dalam umrah bukan sekadar membaca “Labbaik Allahumma Umrah,” tetapi juga mencakup kesadaran bahwa kita datang sebagai tamu Allah dengan hati tunduk dan bersih dari riya. Niat yang benar dibentuk oleh ilmu—dan ilmu berasal dari Al-Qur’an dan hadits yang shahih.
Mempelajari hadits tentang keutamaan, sunnah, dan amalan selama umrah membentuk karakter seorang Muslim yang lebih berhati-hati dalam beribadah. Ia tidak asal ikut, tapi mencari tahu, bertanya, dan berusaha menjalani sesuai sunnah.
Inilah mengapa kajian hadits seperti Shahih At-Targhib sangat relevan untuk jamaah umrah masa kini. Ia menjadi panduan agar kita tidak hanya melangkah secara fisik, tapi juga menapaki jalan ibadah dengan hati yang tercerahkan.