Salah satu keutamaan besar dalam perjalanan umrah dan haji adalah kesempatan untuk berdoa di tempat-tempat mustajab, yaitu tempat yang secara khusus disebutkan memiliki keistimewaan dalam pengabulan doa. Di antara tempat-tempat tersebut, Multazam dan Maqam Ibrahim adalah dua lokasi yang sangat disucikan dan penuh rahmat. Multazam berada di antara Hajar Aswad dan pintu Ka’bah, sedangkan Maqam Ibrahim adalah batu yang menjadi pijakan Nabi Ibrahim saat membangun Ka’bah. Kedua tempat ini menjadi tempat yang sangat dianjurkan untuk memanjatkan doa karena keutamaannya yang luar biasa. Artikel ini akan membahas bagaimana memaksimalkan momen berdoa di dua tempat mulia ini, baik secara historis, teknis, maupun spiritual.

1. Sejarah Keutamaan Tempat Mustajab

Multazam dan Maqam Ibrahim bukan hanya bagian dari bangunan fisik di Masjidil Haram, tapi juga menyimpan nilai sejarah yang tinggi dalam Islam. Multazam diyakini sebagai salah satu tempat paling mustajab untuk berdoa. Berdasarkan riwayat dari Ibn Abbas, Rasulullah ﷺ pernah berdoa di tempat ini, dan para sahabat mengikutinya. Disebutkan bahwa tidak ada doa yang dipanjatkan di Multazam melainkan Allah akan mengabulkannya, selama doa tersebut tidak berisi permintaan yang melanggar syariat.

Multazam secara harfiah berarti “tempat bergantung”, karena di sanalah banyak orang menempelkan tubuh mereka ke dinding Ka’bah sambil berdoa, menunjukkan bentuk penghambaan yang sangat dalam. Sementara itu, Maqam Ibrahim adalah saksi sejarah dari pembangunan Ka’bah oleh Nabi Ibrahim dan Ismail. Di sinilah tempat pijakan Nabi Ibrahim masih bisa dilihat hingga sekarang, dan Allah memerintahkan umat Islam untuk salat dua rakaat di belakangnya setelah tawaf.

Keistimewaan Maqam Ibrahim disebutkan dalam Al-Qur’an (QS Al-Baqarah: 125), dan sejak zaman Nabi Muhammad ﷺ, tempat ini menjadi salah satu lokasi spiritual penting yang penuh berkah. Maka tak heran, dua tempat ini selalu dipenuhi oleh jamaah yang ingin memanjatkan doa dengan penuh harap.

Memahami latar belakang sejarah tempat mustajab ini akan membuat hati lebih siap dan bersungguh-sungguh dalam berdoa, bukan sekadar mengikuti kerumunan.

2. Doa yang Dianjurkan oleh Ulama

Meskipun tidak ada doa khusus yang wajib dibaca di Multazam atau Maqam Ibrahim, para ulama menganjurkan agar doa-doa yang dibaca di tempat mustajab mencakup kebaikan dunia dan akhirat. Doa-doa seperti memohon ampunan, keselamatan, rezeki halal, keteguhan iman, serta doa untuk keluarga dan umat Islam sangat dianjurkan. Di antara doa yang sering diamalkan adalah:

Allahumma inni as’aluka al-‘afwa wal-‘afiyah fid-dunya wal-akhirah
(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan di dunia dan akhirat).

Ulama juga menganjurkan membaca doa-doa yang berasal dari Al-Qur’an dan hadits, karena lebih terjamin keutamaannya. Namun, berdoa dengan bahasa sendiri dan isi hati juga sangat dianjurkan, karena Allah Maha Mendengar dan mengetahui isi hati setiap hamba.

Dalam kondisi berdesakan, ringkaslah doa agar tidak terlalu lama di satu tempat, terutama di Multazam yang sangat padat. Anda bisa menyiapkan daftar doa sejak di rumah, ditulis dalam buku kecil atau ponsel, agar saat waktunya tiba Anda bisa membacanya dengan tenang dan tidak lupa.

Yang terpenting adalah doa tersebut lahir dari hati yang tulus, penuh pengharapan, dan yakin akan dikabulkan oleh Allah. Karena di tempat-tempat mulia ini, pintu langit terasa lebih dekat.

3. Adab Berdoa dengan Tunduk dan Khusyuk

Doa adalah ibadah yang membutuhkan adab, terutama saat dilakukan di tempat suci seperti Multazam dan Maqam Ibrahim. Salah satu adab utama adalah berdoa dengan penuh ketundukan, menyadari bahwa kita sedang berdiri di hadapan Allah di tempat yang dimuliakan-Nya. Mulailah dengan pujian kepada Allah, membaca shalawat kepada Rasulullah ﷺ, dan akhiri dengan penuh harap.

Gunakan suara lembut dan jangan berteriak-teriak, karena Allah Maha Mendengar meski kita berbisik. Jangan pula sibuk mengambil foto atau video ketika sedang berdoa. Gunakan waktu itu sepenuhnya untuk mencurahkan isi hati kepada Allah.

Bersikaplah rendah hati, baik dalam posisi tubuh maupun dalam kata-kata. Hindari doa yang terkesan menyuruh Allah atau bernada sombong. Doa adalah permohonan, bukan tuntutan. Rasulullah ﷺ sendiri memberi teladan dengan doa yang sangat lembut dan penuh pengharapan.

Doa yang khusyuk seringkali lebih pendek namun menggetarkan, karena keluar dari hati yang benar-benar sadar akan kebutuhan pada Allah. Maka latihlah keikhlasan dan kekhusyukan, karena tempat boleh istimewa, tetapi hati yang hadir sepenuhnya adalah kunci utamanya.

4. Menghindari Menghalangi Jamaah Lain

Multazam dan Maqam Ibrahim merupakan area yang sangat ramai. Oleh karena itu, menjaga adab sosial dan tidak mengganggu jamaah lain juga bagian dari etika penting saat berdoa. Di Multazam, banyak orang ingin menempelkan tubuh ke dinding Ka’bah. Maka, jika sudah selesai berdoa, segeralah beri kesempatan kepada jamaah lain.

Jangan berlama-lama memonopoli tempat, apalagi jika sampai menghalangi jalur tawaf atau membuat kericuhan karena memaksa bertahan di satu titik. Ingat bahwa Tanah Suci adalah milik umat Islam sedunia, dan setiap orang berhak mendapat kesempatan yang sama.

Demikian pula saat di Maqam Ibrahim, karena lokasinya berada di dalam jalur salat dan tawaf, penting untuk tidak berdiri terlalu lama atau mengambil ruang yang luas hanya untuk diri sendiri. Sebaiknya ambil posisi secukupnya, berdoa dengan tenang, lalu berpindah.

Menghindari sikap egois di tempat suci justru akan menambah keberkahan. Karena adab terhadap sesama jamaah adalah bagian dari adab kepada Allah juga.

5. Membawa Hajat Pribadi dan Keluarga dalam Doa

Momen berdoa di tempat mustajab seperti Multazam dan Maqam Ibrahim adalah kesempatan langka yang tidak selalu bisa diulang. Maka, jangan sia-siakan kesempatan ini hanya dengan doa umum. Bawalah hajat pribadi, hajat orang tua, pasangan, anak-anak, bahkan teman yang pernah menitipkan doa.

Sebelum berangkat umrah, biasakan mencatat doa-doa secara spesifik: nama orang yang didoakan, permohonan rezeki tertentu, atau penyelesaian masalah hidup. Doa yang terarah dan penuh keyakinan lebih kuat secara spiritual karena kita tahu betul apa yang diminta.

Doakan pula hal-hal besar seperti keselamatan umat Islam, kemerdekaan Palestina, atau kemaslahatan negeri. Jadikan doa sebagai sarana kontribusi spiritual untuk dunia.

Mengangkat tangan dan menyebut nama orang tua serta keluarga dengan haru di tempat yang dimuliakan Allah adalah bentuk bakti yang luar biasa. Doa semacam ini seringkali menjadi titik balik dalam kehidupan, karena lahir dari keikhlasan dan cinta yang dalam.

Penutup

Multazam dan Maqam Ibrahim adalah dua tempat yang penuh rahmat dan keistimewaan. Dengan pemahaman sejarah, doa yang tepat, adab yang baik, dan sikap sosial yang bijak, doa-doa yang dipanjatkan di tempat ini insyaAllah akan menjadi bagian dari amalan yang paling bermakna dalam hidup. Jangan sekadar hadir secara fisik, hadirkan pula hati yang penuh harap dan keyakinan. Jadikan setiap detik di tempat mustajab sebagai momentum spiritual yang tak terlupakan dan bekal berharga hingga akhirat kelak.