Perjalanan haji tak hanya tentang menunaikan rukun Islam kelima, tapi juga momentum besar dalam memperdalam ilmu dan spiritualitas. Terlebih bagi jamaah Haji Furoda—yang mendapat visa undangan khusus dari pemerintah Arab Saudi—kesempatan mereka lebih fleksibel untuk mengikuti berbagai kajian keilmuan, termasuk bersama ulama kenamaan. Salah satunya adalah Syaikh Ziyad Al-Abbady, seorang ulama asal Timur Tengah yang dikenal dekat dengan jamaah Indonesia dan memiliki pendekatan dakwah yang lembut namun mendalam. Artikel ini akan mengupas pengalaman jamaah saat mengikuti kajian bersama beliau, serta nilai-nilai spiritual yang tertanam selama ibadah haji.
Profil Syaikh Ziyad Al-Abbady dan Kiprahnya dalam Dakwah
Syaikh Ziyad Al-Abbady adalah seorang ulama yang dikenal luas di kalangan jamaah internasional, termasuk Indonesia. Beliau berasal dari Yordania dan memiliki spesialisasi dalam ilmu tafsir dan hadis. Kiprahnya dalam dunia dakwah telah merambah ke berbagai negara, terutama di Timur Tengah dan Asia Tenggara. Gaya penyampaian beliau dikenal hangat, menyentuh hati, dan penuh hikmah.
Dalam beberapa tahun terakhir, Syaikh Ziyad kerap diundang sebagai pembimbing spiritual dalam program Haji Furoda. Keistimewaannya terletak pada kemampuannya menjelaskan ilmu yang dalam dengan bahasa sederhana, sehingga mudah dicerna oleh jamaah dari berbagai latar belakang. Kecintaannya pada Indonesia juga membuat beliau fasih dalam menghubungkan materi kajian dengan konteks sosial dan budaya jamaah nusantara.
Haji Furoda: Peluang Mendalamkan Ilmu dan Ibadah
Berbeda dengan haji reguler, jamaah Haji Furoda biasanya memiliki waktu yang lebih longgar dan fleksibel dalam mengatur kegiatan ibadah maupun menghadiri kajian. Hal ini menjadi nilai tambah yang besar bagi mereka yang ingin menjadikan haji sebagai sarana tahsin ilmu dan iman. Salah satu program yang dinantikan adalah kajian eksklusif bersama para ulama Timur Tengah.
Kajian bersama Syaikh Ziyad biasanya diadakan selepas shalat atau di sela-sela waktu istirahat di Arafah, Mina, atau Makkah. Banyak jamaah menyampaikan bahwa momen-momen ini membuat haji menjadi lebih dari sekadar ritual fisik. Mereka merasa lebih terhubung secara batin dengan makna-makna yang terkandung dalam manasik, karena disertai pemahaman yang benar.
Spiritualitas yang Diperoleh Jamaah dari Kajian Langsung
Banyak jamaah Haji Furoda yang mengaku mengalami lonjakan spiritual setelah mengikuti kajian langsung bersama Syaikh Ziyad. Beliau kerap membahas tema-tema penting seperti hakikat tawakal, makna wukuf di Arafah sebagai refleksi diri, serta pentingnya menjaga tauhid pasca-haji. Penekanan pada adab, niat, dan keikhlasan dalam ibadah membuat para jamaah merenung lebih dalam.
Tak sedikit yang menangis tersedu saat mendengarkan nasihat beliau, terutama saat membahas dosa yang tersembunyi namun menggerogoti hati, seperti riya, ujub, atau merasa telah cukup beribadah. Di tengah kemegahan ibadah haji, kajian ini mengingatkan bahwa haji sejati adalah pembersihan hati, bukan hanya pencapaian fisik.
Interaksi dan Tanya Jawab: Hikmah dalam Perjalanan
Salah satu hal yang paling dirindukan dari kajian bersama Syaikh Ziyad adalah sesi tanya jawab interaktif, yang sering kali membongkar kesalahpahaman atau kelalaian dalam praktik ibadah sehari-hari. Jamaah bebas bertanya dalam bahasa Arab atau melalui penerjemah, dan jawaban yang diberikan sangat aplikatif serta membumi.
Pertanyaan-pertanyaan seputar manasik, kehidupan rumah tangga, atau masalah iman pribadi sering muncul, dan Syaikh Ziyad menjawab dengan gaya yang tidak menghakimi, namun tetap tegas dalam kebenaran syariat. Sesi-sesi ini membuat jamaah merasa benar-benar “dididik” secara ruhani, bukan sekadar “dilayani” secara logistik.
Perbedaan Suasana Kajian di Tanah Suci dan di Tanah Air
Mengikuti kajian langsung di Tanah Suci memberikan nuansa yang jauh berbeda dibandingkan di tanah air. Di sana, setiap kata nasihat terasa lebih menggugah karena diiringi dengan suasana ibadah yang khusyuk, tubuh yang lelah, dan hati yang lembut. Kombinasi antara suasana tempat, waktu, dan materi kajian menjadikan momen ini lebih mudah meresap ke dalam kalbu.
Suasana spiritual yang tidak terganggu oleh rutinitas duniawi juga membuat jamaah lebih fokus dan terbuka menerima nasihat. Banyak yang merasa bahwa kajian di Makkah atau Arafah seperti mendapatkan “suntikan ruhani” yang bertahan lama setelah mereka kembali ke tanah air.
Efek Jangka Panjang Kajian bagi Jamaah Furoda
Kajian bersama ulama di Tanah Suci tidak berhenti saat haji selesai. Bagi banyak jamaah, inilah titik awal perubahan. Setelah pulang, mereka merasa memiliki tanggung jawab lebih besar untuk menjaga amalan dan menyebarkan manfaat kepada keluarga dan lingkungan. Banyak yang mulai rutin menghadiri majelis taklim, memperbaiki bacaan Qur’an, dan menata ulang prioritas hidup.
Efek jangka panjang lainnya adalah tumbuhnya semangat untuk terus menuntut ilmu. Kajian di tanah suci menjadi penanda kebangkitan iman, bukan sekadar memori manis. Jamaah Furoda yang mengalami ini sering berkata: “Kami tak hanya pulang dengan gelar ‘haji’, tapi pulang dengan tekad baru untuk menjadi hamba yang lebih baik.”