Haji dan umrah adalah dua ibadah agung yang menjadi dambaan setiap Muslim. Namun, seiring dengan kemuliaannya, ibadah ini juga membawa ujian tersendiri setelah selesai dijalankan, yaitu ujian kesombongan dan merasa lebih suci dibandingkan orang lain. Tak jarang, seseorang yang baru pulang dari Tanah Suci justru tergelincir dalam sikap ujub (bangga diri) dan riya (pamer), baik dalam perkataan maupun sikap. Artikel ini mengajak pembaca untuk merenungi bagaimana seharusnya sikap seorang haji dan mu’tamir setelah kembali ke tengah masyarakat—yakni dengan penuh rendah hati, tanpa mencemari kemuliaan ibadah dengan rasa takabbur.

Niat Lillahi Ta’ala dalam Berbagi Cerita
Menceritakan pengalaman haji atau umrah adalah hal yang wajar. Banyak orang yang ingin mendengar kisah spiritual dari Tanah Suci. Namun, niat di balik cerita tersebut sangat penting. Apakah untuk menginspirasi atau justru menunjukkan pencapaian pribadi? Niat yang benar adalah semata-mata karena Allah, sebagai bentuk syiar, bukan sebagai sarana pamer.
Sebaiknya, saat berbagi cerita, tekankan keagungan Allah, tantangan yang memperkuat iman, dan hikmah yang menyentuh hati. Hindari kalimat yang menonjolkan diri, seperti menyebutkan fasilitas mewah, perjalanan eksklusif, atau membandingkan diri dengan orang lain. Jika niat tetap lurus, cerita kita akan menjadi sumber inspirasi, bukan kesan kesombongan.

Menjauhi Gelar untuk Pamer Status
Di beberapa lingkungan, gelar “Haji” atau “Hajjah” kerap digunakan sebagai simbol status sosial. Padahal, secara syariat, tidak ada kewajiban menyematkan gelar tersebut di depan nama. Islam tidak mengenal kasta berdasarkan status haji. Semua Muslim setara, dan yang membedakan hanyalah takwa.
Meskipun tidak haram menggunakan gelar tersebut, hendaknya kita mawas diri: apakah kita menggunakan gelar itu karena kebiasaan masyarakat atau sebagai bentuk kemuliaan pribadi? Jika cenderung pada yang kedua, maka kita perlu membersihkan hati. Yang Allah nilai bukan gelar, tetapi amal yang ikhlas.

Mengutamakan Akhlak yang Lebih Baik Pasca Ibadah
Ukuran haji dan umrah yang mabrur bukanlah jumlah foto di depan Ka’bah atau cerita panjang di media sosial. Tolak ukurnya adalah perubahan sikap dan akhlak setelah pulang. Apakah kita menjadi lebih sabar? Apakah tutur kata kita lebih lembut? Apakah kepedulian sosial meningkat?
Rasulullah ﷺ bersabda, “Haji yang mabrur tidak ada balasan kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim). Salah satu ciri mabrur adalah akhlak yang lebih baik. Maka, mari jaga perilaku kita agar menjadi pribadi yang menenangkan lingkungan, bukan pribadi yang merasa lebih tinggi dari orang lain karena pernah ke Tanah Suci.

Memberi Teladan Rendah Hati di Tengah Masyarakat
Kesombongan seringkali tidak tampak dari kata-kata, tetapi dari sikap tubuh, cara memandang orang lain, hingga cara kita menyikapi perbedaan. Seorang yang baru pulang dari ibadah haji atau umrah seharusnya memberi contoh sikap tawadhu’ (rendah hati). Tidak reaktif saat berbeda pendapat, tidak merasa diri lebih alim, dan tidak menyindir mereka yang belum berangkat.
Keteladanan seperti ini akan lebih menginspirasi masyarakat daripada sekadar menunjukkan dokumentasi perjalanan. Menjadi “bekas jamaah haji” yang disegani karena kerendahan hati jauh lebih bermakna dibandingkan menjadi “haji” yang disanjung karena gelar atau status sosial.

Mengingat Kecilnya Diri di Hadapan Allah
Setiap rukun dalam ibadah haji sejatinya mengingatkan manusia tentang kerapuhan dan ketergantungan kepada Allah. Ihram menggugurkan kebanggaan dunia, wukuf memperlihatkan kecilnya kita dalam lautan manusia, dan thawaf menggambarkan kepasrahan mutlak kepada Sang Pencipta. Maka sangat tidak wajar jika setelah itu, seseorang pulang dengan rasa lebih tinggi dari sesama.
Penting untuk terus merenung bahwa Allah menerima ibadah seseorang bukan karena uang yang dikeluarkan atau perjalanan yang ditempuh, tetapi karena keikhlasan dan ketundukan hati. Mengingat kebesaran Allah akan menumbuhkan rasa takut tergelincir dari kemabruran hanya karena kesombongan kecil yang tak disadari.

Doa Agar Dijaga dari Riya dan Ujub
Sebagus apa pun amal ibadah kita, ia bisa rusak hanya karena niat yang salah dan hati yang berpenyakit. Oleh karena itu, kita perlu memperbanyak doa agar dijauhkan dari sifat riya, ujub, dan takabbur. Salah satu doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ adalah:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu dalam keadaan aku mengetahuinya. Dan aku memohon ampun atas apa yang tidak aku ketahui.” (HR. Ahmad)
Memperbanyak istighfar dan dzikir setelah pulang dari haji dan umrah akan membantu menjaga hati tetap tunduk, bersih, dan fokus pada tujuan sejati: mencari ridha Allah, bukan pengakuan manusia.