Ibadah sa’i dalam rangkaian haji dan umrah bukanlah sekadar berjalan bolak-balik antara dua bukit. Di balik setiap langkahnya, terkandung kisah agung seorang wanita salehah bernama Hajar—istri Nabi Ibrahim—yang mengajarkan kita arti sabar, tawakal, dan usaha tanpa menyerah. Sa’i menjadi simbol perjuangan dan harapan. Artikel ini akan membahas sejarahnya, tata cara pelaksanaannya, hingga makna spiritual yang bisa dipetik, agar setiap jamaah melangkah dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

Sejarah Sa’i: Kisah Hajar dan Nabi Ismail
Sa’i berasal dari peristiwa bersejarah ketika Hajar ditinggalkan oleh Nabi Ibrahim di lembah Makkah bersama bayi kecilnya, Ismail. Dalam kondisi tanpa air dan makanan, Hajar berlari bolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali, mencari sumber kehidupan. Usahanya yang penuh harap dan tawakal kepada Allah akhirnya dijawab dengan keluarnya air zamzam dari hentakan kaki Nabi Ismail.
Peristiwa ini diabadikan sebagai ibadah sa’i, bukan hanya untuk menghormati perjuangan seorang ibu, tapi juga sebagai pelajaran universal tentang keimanan, usaha, dan pengharapan. Allah menetapkan sa’i sebagai bagian dari ibadah haji dan umrah, menunjukkan bahwa pengorbanan dan kesabaran seorang wanita bisa menjadi bagian dari syariat Islam yang abadi.

Tata Cara Melaksanakan Sa’i
Sa’i dilakukan setelah thawaf dan shalat dua rakaat di belakang Maqam Ibrahim. Jamaah menuju Bukit Shafa, membaca niat, lalu naik sedikit ke bukit sambil menghadap Ka’bah, berdoa, dan memulai perjalanan menuju Marwah. Total terdapat tujuh lintasan, dimulai dari Shafa dan berakhir di Marwah.
Di antara dua lampu hijau, jamaah pria disunnahkan untuk berlari-lari kecil (harwalah) sebagai bagian dari ibadah. Setiap sampai di ujung, dianjurkan untuk berdoa. Meski tampak sederhana, sa’i membutuhkan kesabaran dan ketekunan. Jamaah dianjurkan melaksanakannya dengan hati yang tenang dan khusyuk, tidak tergesa-gesa atau sibuk dengan urusan duniawi.

Doa dan Dzikir yang Dianjurkan
Tidak ada doa khusus yang diwajibkan dalam sa’i, namun disunnahkan memperbanyak doa dan dzikir selama perjalanan. Bacaan dzikir seperti “Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaaha illallah, Allahu Akbar” atau doa pribadi dalam bahasa sendiri sangat dianjurkan. Doa Hajar yang terkenal sebagai bentuk kepasrahan juga bisa diamalkan: “Hasbiyallahu laa ilaaha illa huwa ‘alayhi tawakkaltu wa huwa rabbul ‘arsyil ‘azhim.”
Yang penting, dzikir yang dibaca benar-benar diresapi maknanya, bukan sekadar diucapkan di bibir. Sebab sa’i bukan tentang cepat atau lambat, tapi tentang bagaimana hati kita tetap terhubung dengan Allah sepanjang langkah.

Hikmah dan Makna Spiritualitas Sa’i
Secara spiritual, sa’i mengajarkan bahwa keajaiban lahir dari usaha yang tulus. Hajar tidak tahu ke mana harus pergi, namun ia tetap berusaha. Dalam sa’i, kita meneladani semangat pantang menyerah tersebut. Ini adalah refleksi hidup: bahwa dalam ujian dan kesulitan, kita tetap harus berikhtiar sambil bertawakal.
Sa’i juga menanamkan nilai bahwa Allah mencintai hamba-Nya yang berjuang. Air zamzam yang muncul bukan semata hasil dari usaha, tapi juga jawaban atas keimanan yang kokoh. Maka, setiap kali melakukan sa’i, hadirkan niat untuk meneladani kesabaran Hajar dan memperkuat ikatan spiritual dengan Allah SWT.

Fasilitas Modern untuk Sa’i di Masjidil Haram
Saat ini, jalur sa’i telah dilengkapi fasilitas modern yang memudahkan jamaah: lantai marmer berpendingin, petunjuk arah digital, toilet di sekitar jalur, hingga kursi roda dan lift untuk lansia dan penyandang disabilitas. Ada juga jalur khusus untuk pria dan wanita, serta ruangan luas ber-AC yang sangat membantu menjaga kenyamanan.
Meski fasilitas sudah modern, kesederhanaan dalam niat dan kekhusyukan tetap harus dijaga. Jangan sampai kenyamanan membuat kita lupa akan makna mendalam dari ibadah ini. Fasilitas adalah sarana, bukan tujuan utama. Ibadah tetap harus dilakukan dengan rasa syukur dan penuh adab.

Menjaga Kekhusyukan di Tengah Keramaian
Keramaian di area sa’i bisa menjadi tantangan tersendiri. Jamaah dari berbagai negara dengan budaya berbeda berkumpul dalam satu lintasan, sering kali menyebabkan desakan atau suara bising. Di sinilah ujian kesabaran muncul. Hindari amarah, jaga sopan santun, dan bantu jamaah lain yang kesulitan.
Salah satu cara menjaga kekhusyukan adalah dengan fokus pada tujuan ibadah, memperbanyak dzikir dalam hati, dan tidak larut dalam keramaian. Sa’i bukan hanya soal fisik, tapi perjalanan batin yang menuntut kita untuk hadir sepenuhnya di hadapan Allah. Ingat, seperti Hajar, kita pun sedang “mencari zamzam” dalam bentuk petunjuk dan keberkahan hidup.