Umrah di bulan Ramadhan adalah salah satu kesempatan ibadah paling istimewa. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa umrah di bulan Ramadhan setara dengan pahala haji bersamanya (HR. Bukhari & Muslim). Tak heran, banyak umat Islam berbondong-bondong mengisi akhir Ramadhan dengan umrah. Lebih dari itu, kini tersedia program khusus yang menggabungkan umrah akhir Ramadhan dan ziarah ke Masjidil Aqsa, menciptakan pengalaman spiritual ganda yang mendalam. Artikel ini akan mengulas keutamaan, rute ziarah, dan manfaat iman dari perjalanan istimewa ini, serta persiapan yang perlu dilakukan oleh jamaah.
Keutamaan Umrah di Akhir Ramadhan
Menunaikan umrah pada sepuluh hari terakhir Ramadhan merupakan momentum yang sangat mulia. Selain karena bulan Ramadhan adalah bulan penuh rahmat, malam-malam terakhirnya juga sangat potensial bertemu Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Umrah di waktu tersebut tidak hanya menghapus dosa, tetapi juga mengangkat derajat keimanan secara luar biasa.
Masjidil Haram saat akhir Ramadhan juga memiliki atmosfer yang berbeda. Ribuan jamaah dari seluruh penjuru dunia hadir untuk meraih keutamaan. Kekhusyukan terasa di setiap sudut, dan doa-doa yang dipanjatkan memiliki kekuatan spiritual yang luar biasa. Menjadi bagian dari suasana tersebut bisa menjadi pengalaman ruhani yang membekas seumur hidup.
Kelebihan Menggabungkan Umrah dan Ziarah ke Masjidil Aqsa
Menggabungkan umrah dan ziarah ke Masjidil Aqsa adalah bentuk perjalanan spiritual yang lebih lengkap. Ketiga masjid suci—Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsa—memiliki tempat khusus dalam ajaran Islam. Rasulullah ﷺ bersabda, “Janganlah kalian bersusah payah melakukan perjalanan kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidku ini, dan Masjidil Aqsa.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan mengunjungi Aqsa, jamaah tidak hanya mendapat pengalaman spiritual, tetapi juga memperluas wawasan sejarah Islam yang sangat berharga. Masjidil Aqsa adalah tempat Isra’ Mi’raj, tempat shalat berjamaah pertama Nabi ﷺ dengan para nabi terdahulu, dan memiliki nilai tauhid dan perjuangan yang kuat bagi umat Islam.
City Tour Religius: Jejak Nabi dan Sahabat di Yordania
Program umrah plus Aqsa umumnya melewati Yordania, negara dengan jejak sejarah Islam yang sangat kaya. Di Amman dan sekitarannya, jamaah bisa menziarahi lokasi penting seperti Makam Nabi Syu’aib, Nabi Yusha’ bin Nun, dan para sahabat syuhada perang Yarmuk. Jejak keberanian dan perjuangan Islam sangat kental terasa di tempat-tempat ini.
Selain itu, jamaah juga diajak melihat reruntuhan kota-kota kuno seperti Petra, salah satu warisan dunia UNESCO, yang secara visual dan sejarah menambah kekayaan perjalanan. Perjalanan ini bukan sekadar wisata, tetapi benar-benar menjadi “perjalanan tadabbur” yang menyentuh iman.
Refleksi Iman di Gua Ashabul Kahfi
Salah satu highlight spiritual di Yordania adalah ziarah ke Gua Ashabul Kahfi yang disebut dalam Al-Qur’an (Surah Al-Kahfi). Tempat ini dipercaya sebagai lokasi tidur panjang para pemuda beriman yang melarikan diri dari kekejaman raja dzalim demi mempertahankan akidah mereka.
Berada langsung di lokasi yang disebut dalam wahyu, jamaah akan merenungkan nilai keteguhan iman, kesabaran dalam ujian, dan perlindungan Allah atas orang-orang beriman. Tempat ini sangat cocok dijadikan tempat muhasabah dan memperbarui komitmen kepada Islam.
Manfaat Ganda: Ibadah dan Pembelajaran Sejarah Islam
Perjalanan umrah plus Aqsa bukan sekadar rangkaian ibadah, tetapi juga pembelajaran sejarah Islam yang nyata dan menyentuh. Setiap situs yang dikunjungi membawa narasi perjuangan tauhid, cinta Rasul, dan semangat dakwah para nabi serta sahabat.
Bagi jamaah muda maupun tua, pengalaman ini dapat menjadi pemicu perubahan hidup. Melihat langsung tempat-tempat yang selama ini hanya dikenal lewat Al-Qur’an dan hadis membuat ajaran Islam terasa lebih hidup dan membekas dalam hati. Ini adalah investasi spiritual dan edukatif yang tak ternilai.
Persiapan Fisik dan Mental untuk Dua Tujuan Suci
Melakukan perjalanan umrah dan Aqsa tentu membutuhkan kesiapan fisik dan mental yang matang. Jadwal padat, perpindahan antar negara, serta variasi cuaca dan makanan bisa menjadi tantangan tersendiri. Maka, jamaah disarankan melakukan latihan fisik ringan, seperti berjalan kaki secara rutin, sebelum berangkat.
Secara mental, jamaah perlu menata niat, memperbanyak dzikir, dan menyadari bahwa ini bukan liburan biasa, melainkan safar ibadah. Membawa buku catatan refleksi atau membuat jurnal selama perjalanan bisa menjadi cara efektif untuk mengikat hikmah dan memperdalam rasa syukur.