Masjid Nabawi di Madinah bukan sekadar masjid besar yang megah—ia adalah tanah suci kedua bagi umat Islam setelah Masjidil Haram. Di sinilah Rasulullah ﷺ membangun peradaban Islam, memimpin umat, dan akhirnya dimakamkan. Oleh karena itu, setiap jamaah yang berziarah ke Madinah wajib memahami bahwa mengunjungi Masjid Nabawi adalah kehormatan besar yang menuntut adab tinggi. Artikel ini mengupas secara rinci etika dan perilaku yang harus dijaga oleh para jamaah agar kunjungan mereka tidak sekadar ziarah fisik, tetapi juga menjadi pengalaman spiritual yang berkesan dan penuh keberkahan.
Mengutamakan Shalat dan Dzikir Khusyuk
Tujuan utama mengunjungi Masjid Nabawi adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui ibadah, bukan sekadar mengambil foto atau berjalan-jalan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Satu shalat di masjidku ini lebih baik daripada seribu shalat di masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram.” (HR. Bukhari & Muslim)
Karena keutamaannya begitu besar, hendaknya setiap jamaah mengutamakan shalat fardhu berjamaah di dalam masjid, khususnya di bagian depan yang dekat dengan Raudhah. Selain shalat, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan tafakur juga termasuk amal utama yang bisa dilakukan di sini. Jamaah dianjurkan duduk tenang, tidak tergesa-gesa keluar, dan menyibukkan diri dengan ibadah sunah lainnya.
Larangan Meninggikan Suara dan Berdebat
Salah satu adab paling penting di Masjid Nabawi adalah menjaga lisan dan volume suara. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu meninggikan suaramu melebihi suara Nabi…” (QS. Al-Hujurat: 2)
Meskipun Nabi ﷺ telah wafat, adab ini tetap berlaku di sekitar makamnya. Jamaah dilarang berbicara keras, berdebat, atau bercanda berlebihan di area masjid, terutama dekat Raudhah dan makam Nabi.
Kesantunan suara mencerminkan penghormatan kepada Nabi dan menjaga kesakralan tempat. Bahkan, mengobrol terlalu keras dapat mengganggu kekhusyukan jamaah lain yang sedang beribadah atau berdoa.
Mengucapkan Salam dengan Sopan di Makam Nabi
Salah satu bagian istimewa dari kunjungan ke Masjid Nabawi adalah ziarah ke makam Nabi Muhammad ﷺ, yang terletak di dalam area masjid. Saat berada di dekat makam, disunnahkan mengucapkan salam secara sopan dan penuh takzim, tanpa berteriak atau memaksakan diri menyentuh dinding atau pintu makam.
Salam yang dianjurkan misalnya:
“Assalamu ‘alaika ya Rasulallah, assalamu ‘alaika ya Nabiyallah.”
Setelah menyapa Nabi ﷺ, jamaah juga dianjurkan menyapa Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab yang dimakamkan di sebelah beliau. Tidak perlu membaca doa panjang atau melakukan ritual khusus. Cukup dengan salam tulus dan doa sederhana yang mencerminkan cinta dan penghormatan.
Menjaga Kebersihan dan Ketertiban
Masjid Nabawi adalah tempat yang sangat dijaga kebersihannya, baik oleh petugas maupun para jamaah yang sadar akan nilai kesucian tempat ini. Jamaah sebaiknya ikut menjaga kebersihan dengan membuang sampah pada tempatnya, tidak meninggalkan alas kaki sembarangan, dan tidak makan di dalam area masjid kecuali tempat yang diizinkan.
Selain itu, jamaah perlu memperhatikan ketertiban seperti antre saat masuk Raudhah, mengikuti arahan petugas, dan tidak berebut saf saat shalat. Sikap disiplin menunjukkan kedewasaan spiritual dan menghindari kekacauan yang mengganggu kenyamanan jamaah lainnya.
Menghindari Foto-Foto Berlebihan
Meskipun keinginan mengabadikan momen suci di Masjid Nabawi dapat dipahami, jamaah dianjurkan menahan diri untuk tidak berlebihan dalam mengambil foto, apalagi selfie di depan makam Nabi ﷺ atau di area Raudhah. Hal ini selain tidak sopan, juga mengganggu kekhusyukan jamaah lain.
Petugas di Masjid Nabawi sering menegur mereka yang terlalu banyak berfoto. Hindari menggunakan flash, berbicara keras saat memotret, atau membuat vlog yang mengganggu. Gunakan waktu di masjid untuk fokus beribadah, bukan konten media sosial.
Menghormati Jamaah dari Berbagai Negara
Masjid Nabawi adalah titik pertemuan umat Islam dari seluruh penjuru dunia. Perbedaan bahasa, budaya, bahkan gaya beribadah bukan alasan untuk bertikai atau merasa lebih unggul. Justru, hal ini menjadi ladang toleransi dan ukhuwah Islamiyah.
Jamaah diharapkan bersabar dengan tingkah laku yang mungkin berbeda, dan mendahulukan akhlak baik. Jika ada yang tidak memahami antrean atau berebut tempat, hadapi dengan senyum dan pengertian. Ingat bahwa setiap Muslim adalah tamu Allah dan Rasulullah ﷺ.