Umrah sunnah merupakan ibadah yang sangat dianjurkan selama berada di Tanah Suci, terutama bagi jamaah Haji yang masih memiliki waktu luang dan kekuatan fisik. Meski tidak wajib, banyak yang berlomba-lomba memperbanyak umrah sunnah demi meraih keutamaan pahala yang berlimpah di Makkah—tempat yang satu rakaat shalatnya lebih baik dari seratus ribu rakaat di tempat lain. Di balik semua itu, tersimpan kisah luar biasa dari jamaah yang tak pernah lelah mengulang umrah sunnah berulang kali, menunjukkan semangat dan kecintaan yang mendalam terhadap ibadah. Artikel ini membahas kisah inspiratif tersebut, lengkap dengan motivasi, hikmah, doa, dan tips menjaga stamina saat beribadah secara intensif.
Kisah Jamaah yang Semangat Mengulang Umrah Sunnah Berulang Kali
Pak Haji Salam, seorang pensiunan guru dari Padang, menjadi sorotan di kalangan rombongan Haji karena semangatnya dalam melakukan umrah sunnah berkali-kali. Meskipun usianya sudah lebih dari 65 tahun, ia tidak tampak letih. Hampir setiap dua hari sekali, ia berangkat ke miqat Tan’im atau Ji’ranah dengan taksi untuk berniat ihram, lalu melaksanakan seluruh rangkaian umrah sunnah tanpa mengeluh.
Ketika ditanya apa rahasianya, beliau hanya menjawab, “Selagi Allah beri tenaga dan kesehatan, saya ingin manfaatkan waktu sebaik mungkin di tanah suci ini. Saya tidak tahu apakah saya bisa kembali lagi ke sini.” Jawaban sederhana itu menyentuh hati banyak jamaah lain, membuat mereka ikut terdorong untuk memperbanyak ibadah.
Tak hanya sendiri, Pak Salam kerap mengajak jamaah lain yang masih kuat untuk bergabung dengannya. Ia bahkan menyiapkan jadwal bagi mereka yang ingin ikut agar bisa berbagi kendaraan dan biaya. Kebiasaannya ini menjadi semacam magnet spiritual bagi rombongan yang mulai terinspirasi untuk lebih semangat dalam beribadah.
Kisah Pak Salam bukan sekadar soal fisik, tapi tentang kekuatan cinta kepada Allah yang membuat tubuh tua menjadi ringan untuk terus bergerak dalam ibadah. Ia adalah bukti nyata bahwa semangat tidak mengenal usia jika hati penuh cinta kepada-Nya.
Motivasi Kuatnya dalam Menambah Amal Ibadah di Tanah Suci
Motivasi terbesar Pak Salam berasal dari keyakinannya bahwa waktu di Tanah Suci adalah kesempatan emas yang tak bisa diulang. Setiap langkah yang dilakukan di Makkah dan Madinah bernilai ibadah, apalagi jika digunakan untuk mengulang umrah. Ia memahami bahwa pahala umrah di bulan Dzulhijjah, terutama setelah pelaksanaan haji, sangat besar di sisi Allah.
Selain itu, beliau merasa bahwa masa tua bukan alasan untuk bersantai. Justru dengan kondisi yang masih diberi kekuatan oleh Allah, ia ingin menunjukkan rasa syukur melalui ibadah yang terus-menerus. Ia sering mengatakan, “Setiap tetes keringat di Masjidil Haram adalah saksi kecintaan saya kepada Rabbku.”
Motivasi lainnya datang dari pengalaman pribadi. Sebelum berangkat, ia sempat sakit keras dan nyaris tidak jadi berangkat. Namun, setelah sembuh, ia bernazar akan memperbanyak amal dan tidak menyia-nyiakan kesempatan selama di Tanah Suci. Nazar itu menjadi bahan bakar semangatnya hingga akhir keberangkatan.
Ia pun menganggap umrah sunnah sebagai bentuk latihan untuk memperkuat jiwa. Setiap kali thawaf dan sa’i, ia bermuhasabah, menangis, dan berdoa lebih khusyuk. Dengan semangat ini, setiap pelaksanaan umrah bukan sekadar formalitas, tapi pengalaman spiritual yang mendalam.
Hikmah Keistiqamahan dalam Amal Kebaikan saat Haji & Umrah
Istiqamah dalam beribadah di tengah berbagai godaan duniawi adalah salah satu tanda kemuliaan seorang hamba. Kisah Pak Salam mengajarkan bahwa konsistensi bukan hanya tentang seberapa banyak amal dilakukan, tapi tentang kesungguhan dan kesadaran dalam setiap langkahnya. Melakukan umrah sunnah berulang kali di Tanah Suci menunjukkan bagaimana beliau menjaga amal secara terus menerus.
Hikmahnya adalah hati menjadi tenang, jiwa semakin dekat dengan Allah, dan pikiran dipenuhi dengan kesadaran ilahiah. Saat seseorang menjaga rutinitas ibadah di tempat mulia, maka ruhaniyahnya akan semakin menguat. Bahkan setelah kembali ke tanah air, kebiasaan itu bisa terbawa dalam bentuk ibadah sunnah lain, seperti qiyamul lail atau puasa sunnah.
Istiqamah juga menjadi pelindung dari futur (kelesuan iman). Selama di Makkah, kelelahan fisik digantikan dengan energi spiritual. Orang yang menjaga amalnya secara konsisten akan diberi jalan kemudahan oleh Allah, sebagaimana disebut dalam QS. Al-Ankabut: 69, “Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, niscaya Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”
Pak Salam membuktikan bahwa siapa yang menjaga ibadahnya dengan istiqamah, maka Allah akan menjaga jasad dan jiwanya dari kebosanan, kelelahan, bahkan penyakit. Semangatnya tidak lahir dari kekuatan tubuh semata, tapi dari hati yang terus berharap pada ridha-Nya.
Doa untuk Istiqamah dalam Ibadah Sunnah
Dalam setiap ibadahnya, Pak Salam tidak pernah lupa memanjatkan doa agar selalu diberi kekuatan untuk istiqamah. Salah satu doa yang ia amalkan adalah:
“Allahumma ya muqallibal qulub tsabbit qalbi ‘ala dinik.”
“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Doa ini sangat dianjurkan karena hanya Allah yang mampu menjaga hati dari lemah iman dan kemalasan dalam beribadah. Selain itu, ia juga sering membaca:
“Rabbi a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibaadatik.”
Ampuni aku ya Allah, bantu aku agar mampu terus berdzikir, bersyukur, dan memperbaiki ibadahku.
Doa untuk diberi kekuatan fisik dan semangat juga ia panjatkan, terutama saat mulai merasa lelah. Ia tidak meminta hal besar—cukup diberi tenaga agar bisa menuntaskan umrah dengan sempurna.
Doa-doa ini bisa dijadikan amalan bagi semua jamaah yang ingin menjaga semangat selama beribadah di Tanah Suci. Dengan niat ikhlas, doa yang tulus, dan usaha sungguh-sungguh, Allah akan membukakan kekuatan luar biasa.
Pelajaran tentang Manfaat Umrah Sunnah Selama di Makkah
Umrah sunnah bukan hanya ibadah fisik, tapi juga proses pembersihan jiwa yang berulang. Setiap thawaf dan sa’i membawa makna baru, seolah jiwa terus dimurnikan dari debu-debu dunia. Melakukan umrah sunnah selama di Makkah mendatangkan banyak manfaat, baik dari sisi spiritual maupun emosional.
Pertama, ia memperbanyak pahala dalam waktu yang terbatas. Selama masih berada di tanah suci, amal-amal sunnah dilipatgandakan pahalanya, sehingga setiap thawaf yang dilakukan seakan menjadi saksi tambahan di hari hisab.
Kedua, umrah sunnah mengisi waktu dengan aktivitas yang produktif secara spiritual. Dibanding menghabiskan waktu untuk belanja atau tidur, umrah sunnah membuat waktu selama di Makkah benar-benar dimanfaatkan sebaik mungkin.
Ketiga, ini menjadi latihan untuk melawan rasa malas dan ego diri. Tidak semua orang mampu terus menjaga konsistensi dalam ibadah. Maka, dengan memperbanyak umrah sunnah, kita sedang mendidik jiwa untuk taat dan tangguh.
Terakhir, umrah sunnah sering menjadi momen refleksi pribadi. Dalam setiap putaran thawaf, kita merenungi hidup, mengingat dosa, dan memohon ampun. Itulah yang membuat setiap umrah memiliki rasa yang berbeda-beda.
Tips Menjaga Stamina Saat Melakukan Ibadah Umrah Berulang
Agar tetap kuat dan semangat dalam melakukan umrah sunnah berulang kali, ada beberapa tips yang bisa diikuti:
Pola Istirahat yang Teratur
Jangan paksakan tubuh jika terlalu lelah. Gunakan waktu malam untuk tidur cukup agar fisik tetap prima.
Perbanyak Minum Air Zam-zam
Air zam-zam selain menyejukkan juga penuh berkah. Minumlah dalam jumlah cukup, terutama sebelum dan setelah thawaf serta sa’i.
Konsumsi Makanan Bergizi
Pilih makanan tinggi protein, serat, dan vitamin untuk menjaga energi. Hindari makanan cepat saji atau terlalu berminyak.
Pakai Alas Kaki yang Nyaman
Gunakan sandal khusus untuk thawaf atau sa’i yang tidak licin dan empuk di telapak kaki agar tidak mudah lecet.
Jaga Niat dan Mental
Selalu perbarui niat karena motivasi spiritual bisa memberi kekuatan lebih besar dari kekuatan fisik. Sugesti positif akan menumbuhkan semangat.
Dengan menjaga fisik dan hati secara seimbang, semangat untuk terus mengulang umrah sunnah akan tetap menyala sampai akhir perjalanan Haji.
Penutup
Kisah jamaah seperti Pak Salam mengajarkan kita bahwa semangat beribadah tidak mengenal usia, dan bahwa umrah sunnah bukan sekadar ibadah tambahan, tapi sarana mendekatkan diri kepada Allah dengan konsisten. Dengan keistiqamahan, ketulusan, dan kesungguhan, setiap langkah thawaf dan sa’i menjadi cahaya yang menerangi jalan menuju ridha-Nya. Semoga kita bisa meneladani semangat beliau dan menjadikan setiap momen di Tanah Suci sebagai kesempatan terbaik untuk beribadah sepenuh hati.