Ibadah Haji adalah panggilan ilahi yang menyatukan Muslim dari berbagai belahan dunia, latar belakang sosial, ekonomi, dan budaya. Di Tanah Suci, semua manusia berdiri sejajar, hanya takwa yang membedakan. Namun, tidak jarang, muncul sikap mengolok-olok atau meremehkan jamaah lain karena perbedaan cara beribadah, penampilan, atau kondisi ekonomi. Islam dengan tegas melarang tindakan ini, terlebih dalam momen sakral seperti Haji. Artikel ini akan membahas hadits, kisah sahabat, hikmah, doa, serta tips menumbuhkan empati dan rendah hati di tengah jamaah Haji.

1. Hadits Tentang Larangan Mencela dan Merendahkan Sesama Muslim
Islam mengharamkan segala bentuk penghinaan terhadap sesama Muslim, terlebih dalam ibadah. Allah ﷻ berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)…”
(QS. Al-Hujurat: 11)
Rasulullah ﷺ pun menegaskan dalam sabdanya:
“Cukuplah seseorang disebut jahat jika ia merendahkan saudaranya sesama Muslim.”
(HR. Muslim)
Hadits ini menunjukkan bahwa mencela atau meremehkan orang lain — meski dalam hati — dapat menggugurkan pahala kebaikan. Di Tanah Suci, sikap ini bisa menjadi penghalang terkabulnya doa dan diterimanya Haji.
Ibadah Haji mengajarkan kesetaraan dan kehormatan bagi semua Muslim. Maka, menghina jamaah lain karena perbedaan bangsa, gaya berpakaian, atau ketidaktahuan dalam manasik adalah bentuk kesombongan yang tercela.

2. Kisah Sahabat yang Menegur Sikap Merendahkan Orang Lain dalam Haji
Sikap mulia ditunjukkan oleh para sahabat Rasulullah ﷺ yang sangat menjunjung adab dan kesetaraan di tengah jamaah. Salah satu kisah datang dari Abdullah bin Mas’ud رضي الله عنه, yang pernah melihat seseorang mencemooh jamaah dari Afrika yang kurang fasih membaca talbiyah. Ia menegur keras dan berkata, “Jangan kamu cemooh suara yang mengguncang Arsy Allah.”
Umar bin Khattab رضي الله عنه, yang sangat dikenal akan ketegasan dan keadilannya, pernah menegur seorang pemuda Quraisy yang meremehkan jamaah dari luar Makkah. Umar berkata, “Ketahuilah, bukan asal keturunan yang memuliakan kalian di sini, tetapi keikhlasan kalian kepada Rabb kalian.”
Kisah lain datang dari Bilal bin Rabah رضي الله عنه, seorang sahabat kulit hitam yang dahulu dihina oleh orang-orang musyrik. Namun justru Bilal dimuliakan oleh Rasulullah ﷺ dan dijadikan pengumandang adzan di Tanah Suci. Rasul pun bersabda, “Aku mendengar langkah-langkahmu di surga, wahai Bilal.”
Kisah-kisah ini adalah pelajaran penting bahwa ukuran kemuliaan bukan terletak pada lahiriah, tetapi pada ketulusan hati dan amal yang diterima.

3. Hikmah Menghindari Sikap Sombong dan Mencela Saat Haji
Ibadah Haji menghapus sekat-sekat sosial dan membentuk kesadaran bahwa semua hamba hanyalah tamu Allah ﷻ. Sikap sombong atau mencela orang lain saat Haji bisa menjadi racun bagi jiwa dan menghilangkan keberkahan ibadah.
Salah satu hikmah menjauhi celaan adalah menjaga hati tetap bersih dari penyakit riya dan ujub. Ketika kita merasa lebih baik dari orang lain, sesungguhnya kita sedang menutup pintu keikhlasan.
Selain itu, mencela bisa mengundang dosa yang tidak ringan. Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menyebut bahwa ghibah, celaan, dan meremehkan orang lain saat Haji lebih berat dosanya karena terjadi di tempat suci dan waktu mulia.
Hikmah lainnya adalah menjaga persatuan umat Islam. Perbedaan madzhab, bahasa, dan budaya seharusnya menjadi rahmat, bukan bahan olok-olok. Jika persatuan rusak karena celaan, maka ruh Haji sebagai pemersatu akan hilang.

4. Doa Memohon Hati yang Lapang dan Rendah Hati Selama Haji
Agar terhindar dari sikap mencela, sombong, dan merasa paling benar saat Haji, maka penting bagi setiap jamaah untuk memohon kelembutan hati kepada Allah ﷻ. Berikut doa yang bisa diamalkan:
“Allahumma tahhir qalbi min al-kibr wa al-‘ujb, waj‘alni min al-muta‘awinina ‘ala al-khair.”
(Ya Allah, bersihkan hatiku dari kesombongan dan rasa ujub, dan jadikan aku termasuk orang yang saling menolong dalam kebaikan.)
Doa lain yang bisa dibaca setiap pagi selama Haji:
“Allahumma a‘tini qalban saliman, wa lisanan sadiqan, wa khuluqan layyinan.”
(Ya Allah, karuniakan aku hati yang bersih, lisan yang jujur, dan akhlak yang lembut.)
Dengan doa, hati yang semula mudah terganggu atau ingin menilai buruk orang lain akan berubah menjadi lapang dan pemaaf.

5. Adab Berbicara dan Bersikap kepada Jamaah Lain
Berinteraksi dengan jutaan jamaah dari seluruh dunia menuntut akhlak mulia. Berikut beberapa adab yang harus dijaga selama Haji:
1. Berbicara dengan lembut dan tidak sarkastik.
Jangan mengomentari aksen bicara, cara berpakaian, atau ibadah orang lain dengan nada merendahkan.
2. Hindari debat yang tidak perlu.
Jika ada perbedaan dalam manasik, cukup pahami tanpa harus memperdebatkan. Fokus pada ibadah masing-masing.
3. Saling menghormati dalam antrian, tenda, atau kendaraan.
Jangan mengeluh atau membandingkan kenyamanan diri dengan jamaah lain. Semua adalah tamu Allah.
4. Jika ingin memberi nasihat, lakukan dengan bijak dan pribadi.
Jangan mempermalukan orang di depan umum.
5. Gunakan bahasa tubuh yang ramah.
Senyuman, gestur sopan, dan membantu orang tersesat adalah bentuk adab luhur dalam berhaji.
Dengan menjaga adab, kita bukan hanya mendekat kepada Allah ﷻ, tapi juga kepada sesama manusia.

6. Tips Menumbuhkan Rasa Empati dan Rendah Hati Selama Haji
Berikut beberapa tips praktis untuk mengasah empati dan menekan rasa sombong selama Haji:
1. Ingat bahwa semua adalah tamu Allah.
Tidak ada VIP dalam ibadah ini, semua datang membawa doa dan harapan yang sama.
2. Latih diri untuk mengamati kelebihan orang lain.
Setiap jamaah punya sisi baik — ada yang sabar, ada yang dermawan, ada yang fasih berzikir. Fokuslah pada itu.
3. Hindari berfokus pada kekurangan jamaah lain.
Ketidaktahuan atau kesalahan dalam manasik bisa jadi karena kurang bimbingan, bukan karena niat buruk.
4. Perbanyak merenung dan muhasabah.
Bandingkan diri dengan orang yang lebih ikhlas, bukan lebih lemah.
5. Gunakan waktu Haji untuk belajar memahami manusia.
Ini adalah sekolah kehidupan — belajarlah dari orang-orang yang berbeda dengan kita.
Dengan empati dan kerendahan hati, perjalanan Haji akan lebih bermakna, penuh hikmah, dan insyaAllah menjadi Haji mabrur.

Penutup
Larangan mengolok-olok atau meremehkan jamaah Haji bukan sekadar ajakan etika, tetapi perintah ilahi yang menjaga kesucian Haji itu sendiri. Di Tanah Suci, setiap hati diuji — apakah mampu merendah, bersabar, dan menyatu dengan sesama dalam kasih sayang? Semoga artikel ini menjadi pengingat bahwa adab dan akhlak selama Haji adalah bagian penting dari ibadah itu sendiri. Mari perkuat keimanan dengan empati, dan wujudkan Haji yang mabrur dengan hati yang bersih dari celaan.