Haji dan umrah bukan hanya bentuk ibadah fisik yang penuh perjuangan, tetapi juga merupakan amalan yang mendapat tempat istimewa dalam Islam. Dalam sejumlah hadits shahih, Nabi Muhammad ﷺ menempatkan ibadah haji di antara amalan-amalan paling utama, bahkan disejajarkan dengan jihad di jalan Allah bagi sebagian kelompok umat. Artikel ini mengulas sisi keutamaan haji sebagai amal tertinggi setelah iman dan jihad, serta bagaimana prioritas ini ditekankan oleh Nabi dan diamalkan oleh para sahabat.

1. Hadits tentang Haji sebagai Amalan Utama setelah Iman dan Jihad
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah ﷺ pernah ditanya, “Amal apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Kemudian ditanya lagi, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Berjihad di jalan Allah.” Kemudian ditanya lagi, “Lalu apa?” Beliau menjawab, “Haji yang mabrur.”
Hadits ini menunjukkan bahwa haji berada pada posisi ketiga dalam hirarki amal terbaik dalam Islam, setelah keimanan dan jihad. Ini menjadi motivasi kuat bagi umat Muslim yang telah mampu secara fisik dan finansial untuk mendahulukan ibadah haji dalam perencanaan hidupnya.
Kedudukan ini juga menunjukkan bahwa haji bukan ibadah sekunder atau tambahan, melainkan bagian dari inti praktik keislaman yang memiliki nilai sangat tinggi di sisi Allah.

2. Haji sebagai Amalan yang Paling Dicintai Allah di Waktu Tertentu
Waktu pelaksanaan ibadah haji juga berkontribusi terhadap keutamaannya. Dalam hadits lain, Nabi ﷺ bersabda, “Tidak ada hari-hari di mana amal shalih lebih dicintai Allah daripada sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah.” (HR. Bukhari)
Di antara amal shalih yang paling menonjol pada sepuluh hari tersebut adalah pelaksanaan haji. Bagi jamaah yang menunaikan haji pada waktu itu, amal mereka dilipatgandakan dan sangat dicintai oleh Allah SWT.
Oleh karena itu, keistimewaan waktu juga mengangkat posisi haji di antara amal-amal lainnya. Saat umat Islam berpuasa, berdzikir, dan bersedekah di hari-hari tersebut, para jamaah haji sedang langsung menjadi tamu Allah di tempat termulia dan waktu terbaik.

3. Haji dalam Deretan Amalan Prioritas dalam Islam
Dalam fikih prioritas (fiqh al-awlawiyyat), para ulama menempatkan ibadah haji sebagai salah satu amal yang harus diprioritaskan ketika seseorang sudah memenuhi syarat istitha’ah (mampu). Ini karena haji tidak hanya bersifat pribadi, tetapi juga memiliki dampak sosial, spiritual, dan moral yang sangat besar.
Bahkan, dalam banyak kisah, Rasulullah ﷺ menunda amal tertentu untuk memberikan teladan bahwa haji adalah salah satu rukun Islam yang harus diprioritaskan. Seorang Muslim yang mampu, tetapi menunda-nunda haji tanpa alasan syar’i, dianggap meremehkan perintah Allah.
Dengan demikian, penting bagi umat Islam untuk menjadikan haji sebagai target utama dalam hidup, bukan hanya menunggu masa tua atau “waktu luang”, tetapi sebagai ibadah yang disegerakan.

4. Perbandingan Haji dengan Amalan Besar Lainnya
Sebagian orang bertanya, “Apakah lebih utama berhaji atau menyumbang pembangunan masjid?”, atau “Apakah lebih baik haji atau menyantuni yatim?” Jawaban ulama sangat tergantung pada konteks dan kebutuhan, namun secara umum, jika seseorang belum pernah berhaji dan sudah mampu, maka haji lebih utama.
Ibnu Qudamah menyatakan dalam al-Mughni bahwa ketika seseorang sudah memiliki kemampuan, maka mendahulukan haji lebih utama daripada semua amalan sunnah lainnya, termasuk sedekah. Namun jika seseorang telah berhaji, sedekah dan amal sosial bisa lebih utama pada saat tertentu.
Artinya, dalam skala prioritas, haji berada di puncak ketika belum ditunaikan. Namun bukan berarti mengabaikan amal sosial. Justru setelah berhaji, dorongan untuk bersedekah dan berbuat baik seharusnya semakin kuat.

5. Penekanan Nabi tentang Mendahulukan Haji bagi yang Mampu
Rasulullah ﷺ bersabda,
“Segeralah kalian menunaikan haji, karena bisa jadi kalian akan sakit, atau kendaraan kalian rusak, atau ada kebutuhan yang menghalangi.”
(HR. Ahmad)
Hadits ini menekankan urgensi untuk mendahulukan haji jika sudah mampu. Jangan menunda dengan alasan menanti waktu ideal, usia pensiun, atau alasan teknis lainnya. Haji bukan hanya ibadah, tetapi juga bentuk kepatuhan total terhadap seruan Allah.
Menunda-nunda ibadah wajib tanpa alasan yang sah bisa berujung pada kelalaian dan kehilangan momentum spiritual. Banyak orang yang menyesal ketika sudah tidak mampu secara fisik, sementara dulu sempat memiliki kemampuan tetapi menundanya.

6. Kisah Sahabat yang Memprioritaskan Haji di Atas Amalan Lain
Salah satu teladan datang dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu. Ketika beliau sudah memiliki dana, ia segera melaksanakan haji meski sedang dalam masa tanggung jawab pemerintahan. Bagi beliau, ibadah kepada Allah tetap menjadi prioritas di tengah kesibukan dunia.
Begitu pula Utsman bin Affan, yang menunaikan haji berkali-kali dan tetap menunaikan tanggung jawab sosialnya. Mereka menunjukkan bahwa haji bukanlah ibadah satu kali seumur hidup semata, tetapi perjalanan ruhani yang diutamakan di atas kesibukan dunia lainnya.
Kisah-kisah ini menjadi inspirasi bahwa haji harus menjadi prioritas dan jangan ditunda jika sudah mampu. Para sahabat memahami bahwa tidak ada jaminan hidup esok hari, maka amal utama harus segera dilakukan.

Penutup
Haji bukan hanya rukun Islam kelima, tetapi juga termasuk dalam jajaran amal paling utama setelah iman dan jihad. Keutamaannya diabadikan dalam hadits-hadits shahih, serta dicontohkan langsung oleh para sahabat Rasulullah ﷺ. Maka, siapa pun yang diberi kemampuan, hendaknya segera menjadikan haji sebagai prioritas utama. Tidak hanya untuk mendapatkan pahala, tetapi untuk mendekatkan diri secara total kepada Allah SWT.