Perjalanan haji dan umrah mempertemukan umat Islam dari seluruh penjuru dunia yang membawa latar belakang budaya, bahasa, dan pemahaman fikih yang beragam. Perbedaan mazhab dalam praktik ibadah sering kali menjadi tantangan tersendiri bagi sebagian jamaah, terutama mereka yang baru pertama kali ke Tanah Suci. Jika tidak dipahami dengan baik, perbedaan ini bisa menimbulkan kebingungan atau bahkan perpecahan. Padahal, Islam sendiri memberikan ruang ijtihad dan toleransi dalam ranah yang bersifat furu’iyah (cabang agama). Artikel ini membahas tips praktis dan adab Islami dalam menyikapi perbedaan mazhab saat haji dan umrah agar jamaah bisa fokus pada esensi ibadah dan ukhuwah.
1. Memahami Perbedaan Mazhab sebagai Rahmat
Perbedaan pendapat di kalangan ulama bukanlah bentuk perpecahan, tetapi manifestasi dari keluasan rahmat Allah dalam Islam. Rasulullah ﷺ tidak pernah melarang perbedaan selama masih dalam koridor dalil dan metode ijtihad yang benar. Mazhab seperti Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali semuanya berasal dari usaha para ulama memahami sunnah Nabi sesuai konteks mereka.
Jamaah perlu memahami bahwa perbedaan dalam teknis ibadah—seperti bacaan doa, posisi tangan dalam shalat, atau jumlah lempar jumrah—merupakan hal yang wajar. Ini bukan penyimpangan, tetapi hasil dari metode kajian fikih yang sah.
Menyikapi perbedaan sebagai rahmat akan membuat hati lebih lapang. Alih-alih bingung atau mempertanyakan praktik jamaah lain, kita justru bisa belajar bahwa Islam sangat fleksibel namun tetap berpijak pada dalil.
Menginternalisasi nilai ini membantu jamaah fokus pada spiritualitas ibadah, bukan perdebatan tak perlu.
2. Menghindari Memaksakan Pendapat pada Jamaah Lain
Salah satu kekeliruan yang sering terjadi adalah ketika seseorang merasa pendapat atau praktik ibadahnya paling benar, lalu memaksakan kepada orang lain. Sikap ini bertentangan dengan prinsip toleransi dalam Islam dan bisa mengganggu kekhusyukan ibadah jamaah lain.
Memaksakan mazhab atau mencela praktik ibadah orang lain bisa menimbulkan konflik di tengah rombongan. Padahal, perbedaan semacam itu sudah ada sejak zaman para tabi’in dan telah ditoleransi oleh ulama salaf.
Adab Islami mengajarkan kita untuk berdakwah dan menyampaikan kebenaran dengan hikmah, bukan dengan arogansi. Jika pun merasa perlu memberi tahu seseorang, lakukan dengan cara yang lemah lembut dan dalam suasana yang tepat.
Jamaah harus menghindari sikap merasa lebih alim, apalagi ketika sesama jamaah menjalankan ibadah dengan keyakinan berdasarkan mazhab yang mereka yakini.
3. Menghormati Cara Ibadah Berbeda yang Sah
Selama ibadah dilakukan dengan dalil yang shahih dan tidak menyelisihi prinsip-prinsip syariat, maka perbedaan bentuk praktik bukan hal yang harus dipersoalkan. Contoh kecil: seseorang membaca doa dengan mengangkat tangan sebelum memulai thawaf, sementara orang lain tidak melakukannya. Keduanya sah.
Menghormati praktik ibadah orang lain adalah bagian dari adab dan tanda ketawadhuan. Jangan buru-buru menyalahkan hanya karena tidak sesuai kebiasaan kita.
Perlu diingat bahwa sahnya ibadah tidak ditentukan oleh keseragaman praktik, tetapi oleh keikhlasan dan kesesuaiannya dengan dalil.
Jika ada praktik yang membuat ragu, lebih baik bertanya atau diam daripada menilai secara terburu-buru. Banyak praktik yang terlihat asing tetapi memiliki dasar yang kuat dalam mazhab tertentu.
4. Bertanya pada Pembimbing untuk Klarifikasi
Dalam situasi bingung atau ragu terkait perbedaan mazhab, jamaah sebaiknya bertanya langsung kepada pembimbing haji yang kompeten. Pembimbing biasanya telah memahami berbagai mazhab dan bisa memberikan penjelasan dengan adil dan bijak.
Dengan bertanya, kita tidak hanya mendapatkan ilmu, tetapi juga menghindari kesalahpahaman. Pembimbing juga dapat menjelaskan mana yang rukun, mana yang sunnah, dan mana yang bersifat fleksibel berdasarkan kondisi jamaah.
Kadang perbedaan bukan karena mazhab, tetapi karena konteks fiqih rukhsah (keringanan) dalam kondisi tertentu. Misalnya, hukum shalat jamak dan qashar yang dilakukan dalam kondisi safar.
Komunikasi yang baik dengan pembimbing akan menciptakan kenyamanan dalam rombongan, terutama ketika menghadapi kondisi yang memerlukan adaptasi hukum.
5. Menjaga Persatuan dan Ukhuwah dalam Ibadah
Tujuan utama dari haji adalah mencapai takwa dan persatuan umat. Maka, menjaga ukhuwah lebih penting daripada memperdebatkan hal-hal furu’iyah. Perbedaan tidak seharusnya menjadi penghalang dalam membangun persaudaraan antarjamaah.
Rasulullah ﷺ mencontohkan bagaimana membina persatuan bahkan dalam perbedaan. Selama perbedaan itu bukan dalam perkara ushul (pokok agama), maka toleransi sangat dianjurkan.
Persatuan dibangun melalui saling memahami, memaafkan, dan bersabar. Dalam rombongan, adakalanya jamaah berbeda cara dalam membaca doa, berpakaian, atau melaksanakan manasik. Jika semuanya bisa saling menghargai, maka ibadah akan terasa lebih ringan dan damai.
Maka, setiap jamaah sebaiknya memperkuat niat: haji bukan arena pembuktian ilmu, melainkan ladang penyucian hati dan perbaikan diri.
6. Meneladani Akhlak Toleransi Rasulullah
Rasulullah ﷺ adalah teladan utama dalam menyikapi perbedaan. Beliau tidak pernah mencela sahabatnya hanya karena cara ibadah mereka berbeda dalam hal yang tidak prinsipil. Dalam banyak kesempatan, Nabi membiarkan adanya variasi dalam pelaksanaan ibadah sebagai bentuk kemudahan bagi umat.
Contohnya, Rasulullah pernah mengerjakan shalat witir dengan berbagai cara. Hal ini menjadi dalil bahwa perbedaan dalam bentuk pelaksanaan ibadah diperbolehkan asalkan tidak keluar dari batas syariat.
Meneladani Rasulullah berarti membiasakan akhlak santun, lemah lembut, dan penuh kasih dalam menyikapi perbedaan. Tidak tergesa menyalahkan, tidak merasa paling benar, dan selalu memberi ruang dialog.
Toleransi bukan berarti menyamaratakan kebenaran, tetapi memahami bahwa dalam Islam, ada kelapangan dalam ijtihad yang harus dihormati.
Penutup: Ibadah Haji adalah Tentang Hati yang Lapang
Haji bukan semata perjalanan fisik, tapi juga perjalanan ruhani yang menuntut keikhlasan, kesabaran, dan kelapangan hati. Dalam menghadapi perbedaan mazhab, mari kita tanamkan sikap toleransi, saling menghargai, dan memperkuat ukhuwah. Semoga ibadah kita diterima Allah sebagai amal yang penuh cinta dan ketundukan.