Perjalanan ke Tanah Suci untuk umrah atau haji bukanlah sekadar perjalanan fisik, melainkan juga safar spiritual yang membawa harapan, taubat, dan penghambaan total kepada Allah ﷻ. Untuk itu, setiap langkah dalam perjalanan ini sebaiknya dipenuhi dengan dzikir dan doa, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Dalam safar, ada banyak momen mustajab yang sayang jika dilewatkan tanpa permohonan tulus dari hati yang bersih. Artikel ini mengulas doa-doa dan dzikir yang dianjurkan selama perjalanan ke Tanah Suci, serta adab penting agar perjalanan menjadi penuh keberkahan dan bernilai ibadah.
Doa Nabi ﷺ Sebelum Memulai Safar
Sebelum memulai perjalanan, Rasulullah ﷺ mengajarkan sebuah doa indah yang sarat makna. Doa ini bukan hanya permohonan keselamatan, tetapi juga bentuk penyerahan diri kepada Allah sebagai Pemilik alam semesta.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Subhāna alladzi sakhkhara lanā hādzā wa mā kunnā lahu muqrinin. Wa innā ilā rabbinā lamunqalibun. Allāhumma innā nas’aluka fī safarinā hādzā al-birra wa at-taqwā wa mina al-‘amali mā tardhā…”
(HR. Muslim)
Doa ini sebaiknya dibaca saat kendaraan mulai bergerak, baik di mobil, bus, pesawat, atau kereta. Dengan membacanya, seorang hamba menyadari bahwa semua kemampuan safar hanya bisa terjadi dengan izin Allah. Selain itu, doa ini menjadi pembuka perjalanan dengan ruh spiritual yang kuat.
Disunnahkan pula untuk menggabungkan doa safar dengan niat ibadah, khususnya jika perjalanan menuju Mekkah atau Madinah. Niat yang lurus akan membawa hati pada rasa syukur dan takwa selama perjalanan.
Dzikir Selama Perjalanan Darat dan Udara
Dalam perjalanan menuju Tanah Suci, waktu yang panjang di kendaraan bisa diisi dengan berbagai bentuk dzikir, seperti tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil. Allah ﷻ berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, berdzikirlah kalian kepada Allah dengan dzikir yang sebanyak-banyaknya.”
(QS. Al-Ahzab: 41)
Dzikir ringan yang bisa dilafazkan di dalam hati atau lisan adalah:
Subhanallah
Alhamdulillah
La ilaha illallah
Allahu Akbar
Astaghfirullah
Ketika dalam perjalanan udara (pesawat), dzikir tetap bisa dilakukan meski tanpa suara. Bahkan, banyak jamaah yang melanjutkan dengan membaca Al-Qur’an digital, shalawat, atau istighfar secara khusyuk di dalam hati.
Mengisi waktu safar dengan dzikir menjadikan perjalanan bukan sekadar perpindahan fisik, tapi juga perpindahan ruh menuju kedekatan dengan Allah. Safar pun berubah menjadi ladang pahala.
Adab Berbicara dan Bersikap Saat Safar
Rasulullah ﷺ sangat memperhatikan adab safar, termasuk dalam hal berbicara dan bersikap. Selama perjalanan, dianjurkan untuk menghindari banyak bicara yang sia-sia, gosip, atau mengeluh berlebihan. Perjalanan yang melelahkan bukanlah alasan untuk menurunkan etika.
Dalam hadits disebutkan bahwa safar adalah sebagian dari azab, karena ia menghalangi seseorang dari makanan, minuman, dan tempat tidurnya. Maka dibutuhkan kesabaran, ketenangan, dan sikap saling membantu antarsesama jamaah.
Adab lainnya meliputi:
Tidak mengganggu jamaah lain dengan suara keras.
Menjaga kebersihan tempat duduk/kabin.
Mendoakan orang lain diam-diam selama perjalanan.
Tersenyum dan bersikap lembut kepada petugas dan sesama jamaah.
Safar menjadi cermin karakter sejati seseorang. Maka adab yang baik saat safar adalah wujud akhlak mulia dan bagian dari ibadah.
Keutamaan Memperbanyak Doa di Perjalanan
Perjalanan adalah salah satu waktu mustajab untuk berdoa. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tiga doa yang tidak tertolak: doa orang yang dizalimi, doa musafir, dan doa orang tua kepada anaknya.”
(HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Sebagai musafir, seorang jamaah memiliki keistimewaan untuk mengadu dan bermunajat kepada Allah dengan harapan yang tulus. Maka, sepanjang perjalanan—di dalam pesawat, bus, atau bahkan saat beristirahat di hotel transit—doa hendaknya terus dilantunkan.
Doakan keselamatan keluarga di rumah, keberkahan perjalanan, kemudahan ibadah, kesehatan, serta ampunan dari segala dosa. Banyak jamaah yang mengalami keajaiban doa dalam safar, mulai dari kemudahan urusan visa, keberangkatan tanpa halangan, hingga perjumpaan spiritual yang tak terlupakan.
Gunakan waktu safar untuk memperkuat hubungan dengan Allah melalui doa yang khusyuk dan mendalam.
Momen-Momen Mustajab Selama Safar Umrah/Haji
Ada beberapa momen utama yang dikenal sebagai waktu doa mustajab selama safar ke Tanah Suci, antara lain:
Saat kendaraan mulai bergerak (bus/pesawat)
Saat langit terbuka (misalnya di udara menjelang fajar)
Saat wudhu dan menjelang tidur
Di tempat mustajab seperti Multazam, Raudhah, dan Jabal Rahmah
Saat sendirian dan merenung
Momen seperti saat memandang Ka’bah untuk pertama kali juga termasuk waktu yang penuh keutamaan. Maka, pastikan untuk menyiapkan daftar doa agar tidak lupa menyebut hal-hal penting yang ingin dipanjatkan.
Membaca doa-doa ma’tsurat, hizib, atau sekadar doa pribadi dengan bahasa sendiri sangat dianjurkan. Allah ﷻ Maha Mendengar dan mengetahui isi hati, bahkan sebelum lisan mengucapkannya.
Doa yang Dianjurkan Ketika Tiba di Kota Suci
Saat memasuki kota suci seperti Mekkah atau Madinah, Rasulullah ﷺ mengajarkan doa penuh makna:
“Allahumma hadza haramuka wa haram Rasulika, faj’alni min aabidika fiihi wa at-tini fihi khairan taqabbalahu minni…”
Doa ini merupakan permohonan agar Allah menerima kehadiran kita di Tanah Suci sebagai ibadah, bukan sekadar kunjungan. Doa ini bisa dibaca dalam hati saat bus memasuki gerbang kota atau ketika pandangan pertama tertuju pada menara masjid.
Saat pertama kali melihat Ka’bah, para ulama menganjurkan untuk langsung berdoa dengan penuh harap, karena ini termasuk momen sangat mustajab. Jamaah sering kali meneteskan air mata saat memandang Ka’bah, merasakan betapa kecilnya diri di hadapan kebesaran Allah.
Begitu pula ketika memasuki Masjid Nabawi, disunnahkan untuk membaca shalawat, serta berdoa di Raudhah dan dekat makam Nabi ﷺ dengan penuh adab dan khusyuk.