Umrah dan haji adalah dua bentuk ibadah agung dalam Islam yang menggabungkan kekhusyukan spiritual dengan ketertiban ritual. Namun karena melibatkan banyak tahapan, kondisi fisik, dan kerumunan jamaah dari seluruh dunia, kesalahan dalam pelaksanaannya sering terjadi — baik karena kurangnya pemahaman, terburu-buru, atau minimnya bimbingan. Padahal, menjaga kesempurnaan manasik sangat penting agar ibadah diterima dan membawa keberkahan. Artikel ini membahas secara rinci kesalahan umum yang sering terjadi selama haji dan umrah, serta cara menghindari dan memperbaikinya sesuai tuntunan syariat dan sunnah Rasulullah ﷺ.
Kesalahan dalam Niat dan Pelaksanaan Ihram
Kesalahan paling awal yang kerap terjadi dimulai dari niat dan ihram. Banyak jamaah yang lupa berniat atau melafazkannya tidak sesuai saat melewati miqat (batas masuknya ibadah haji/umrah), atau bahkan baru berniat setelah masuk Makkah. Padahal, niat merupakan syarat sah ibadah, dan melewati miqat tanpa berniat bisa menyebabkan ibadah tidak sah atau harus membayar dam (denda).
Kesalahan lain adalah menggunakan pakaian ihram yang tidak sesuai, seperti memakai baju berjahit (bagi laki-laki) atau menggunakan wewangian setelah niat ihram, yang merupakan pelanggaran larangan ihram. Sebagian wanita juga tidak memahami batasan aurat dan adab saat berihram. Untuk menghindari hal ini, penting bagi setiap calon jamaah memahami kapan dan bagaimana niat dilakukan, serta apa saja larangan ihram. Pembekalan manasik yang intensif sebelum keberangkatan sangat disarankan, termasuk simulasi ihram dan tanya jawab seputar praktiknya.
Kekeliruan saat Tawaf dan Sa’i
Tawaf adalah rukun umrah dan haji yang dilakukan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran. Namun banyak jamaah melakukan kesalahan, seperti:
• Tidak memulai dari Hajar Aswad, sehingga putaran tidak sah.
• Berjalan di dalam Hijr Ismail, padahal itu bukan bagian dari Ka’bah, sehingga tawaf tidak sah.
• Berdesakan dan mendorong jamaah lain, yang menyalahi adab dan dapat mencelakakan.
• Tidak menjaga wudhu, padahal tawaf wajib dilakukan dalam keadaan suci.
Demikian pula saat sa’i, kesalahan umum meliputi:
• Tidak menghitung putaran dengan benar (harus tujuh kali dimulai dari Safa dan diakhiri di Marwah).
• Tidak berjalan cepat (raml) antara dua tanda hijau (bagi laki-laki).
• Melakukan sa’i dalam kondisi tidak suci (misalnya tanpa wudhu), walaupun sebagian ulama membolehkan.
• Solusinya adalah dengan mengikuti pemandu ibadah saat thawaf dan sa’i, membawa catatan kecil, dan tidak terburu-buru agar ibadah bisa dilakukan dengan tenang dan benar.
Kesalahan dalam Melontar Jumrah
Melontar jumrah adalah bagian penting dalam ibadah haji yang sarat simbolik: mengusir setan, nafsu, dan godaan. Namun, banyak jamaah melakukan kesalahan berikut:
• Tidak melontar dengan tertib: melempar kurang dari 7 batu, atau salah sasaran.
• Melempar dengan marah, bahkan sambil mencaci maki, yang bertentangan dengan makna spiritual lempar jumrah.
• Menyerahkan lontaran kepada orang lain, padahal ini harus dilakukan sendiri kecuali ada uzur syar’i.
• Menggunakan batu besar atau benda keras, yang justru membahayakan jamaah lain.
Melontar jumrah seharusnya dilakukan dengan tenang, penuh kesadaran bahwa ini adalah simbol menolak bisikan syaitan. Jamaah juga sebaiknya menghafal urutan waktu dan tempat (Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah) sesuai tanggal dan jadwal masing-masing.
Mengabaikan Adab dan Sunnah Rasulullah
Kesalahan yang juga sering terjadi adalah mengabaikan adab dan sunnah Rasulullah SAW selama berada di Tanah Suci. Contohnya:
- Berlomba-lomba menyentuh Ka’bah atau Hajar Aswad dengan kasar, hingga menyakiti orang lain.
- Berdoa dengan suara keras dan panjang di tempat yang padat, mengganggu kekhusyukan jamaah lain.
- Memotret diri (selfie) berlebihan di area ibadah hingga melalaikan kekhusyukan.
- Menganggap ibadah hanya sebatas fisik, tanpa memperhatikan makna rohani dan ketundukan hati.
Padahal, inti dari haji dan umrah adalah meneladani Rasulullah ﷺ — yang ibadahnya dipenuhi dengan ketawadhuan, kelembutan, dan kekhusyukan. Memahami dan mengamalkan sunnah-sunnah Nabi, seperti cara berpakaian, berdoa, hingga menyikapi keramaian, adalah bentuk penghormatan terhadap ibadah itu sendiri.
Cara Memperbaiki dan Menghindari Kesalahan dalam Ibadah
Langkah pertama untuk menghindari kesalahan adalah dengan mempersiapkan diri secara ilmu dan mental. Ikut manasik dengan sungguh-sungguh, membaca panduan ibadah, dan bertanya kepada pembimbing manasik sangat dianjurkan. Jangan menyepelekan hal teknis kecil, karena bisa berdampak pada sah tidaknya ibadah. Jika kesalahan sudah terjadi, maka bertaubat dan mengganti dengan dam (jika diwajibkan) adalah langkah berikutnya. Jangan biarkan kesalahan menjadi beban mental, namun jadikan sebagai pelajaran untuk memperbaiki diri.
Jamaah juga perlu membawa buku saku ringkas tentang manasik dan sunnah Rasul. Berdoa sebelum setiap rangkaian ibadah agar diberikan kelancaran, kekhusyukan, dan terhindar dari kekeliruan juga merupakan bentuk ikhtiar spiritual yang sangat dianjurkan.
Penutup
Umrah dan haji adalah ibadah yang sangat istimewa, sehingga pelaksanaannya harus disertai dengan ilmu, keikhlasan, dan adab. Menghindari kesalahan bukan untuk menyulitkan, tetapi agar setiap amal bernilai di sisi Allah dan membawa pulang gelar “haji/umrah mabrur.” Semoga setiap langkah kita menuju Tanah Suci dibimbing Allah dengan kemudahan dan keberkahan.