Perjalanan umrah atau haji ke Tanah Suci bukan hanya tentang menyelesaikan rukun-rukun ibadah wajib, melainkan juga momentum memperbanyak amalan sunnah yang penuh keutamaan. Salah satu amalan yang sangat dianjurkan adalah salat sunnah, terutama ketika dilaksanakan di dua masjid paling mulia di muka bumi: Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Artikel ini akan membimbing jamaah untuk memahami keutamaannya, mengenal jenis-jenis salat sunnah utama, serta memberikan kiat agar ibadah sunnah ini tetap terjaga di tengah padatnya aktivitas selama di Tanah Suci.

Keutamaan Salat di Masjidil Haram dan Nabawi
Salat di dua masjid ini memiliki keutamaan yang luar biasa sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Salat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih utama daripada seribu salat di masjid lainnya kecuali Masjidil Haram. Dan salat di Masjidil Haram lebih utama daripada seratus ribu salat di masjid lainnya.”
(HR. Ahmad, Ibnu Majah)
Artinya, satu rakaat salat sunnah di Masjidil Haram sebanding dengan seratus ribu rakaat di tempat lain. Sementara itu, satu salat di Masjid Nabawi senilai seribu salat di masjid lainnya. Ini adalah kesempatan emas yang sangat langka, sehingga setiap momen berada di dalam masjid-masjid ini harus dimanfaatkan semaksimal mungkin.
Oleh karena itu, salat sunnah seperti tahiyyatul masjid, rawatib, witir, dan dhuha menjadi ibadah bernilai tinggi ketika dilakukan di sana, baik di waktu-waktu khusus maupun sebagai salat sunnah mutlak.

Salat Sunnah Rawatib dan Waktu-Waktu Utamanya
Salat sunnah rawatib adalah salat yang menyertai salat fardhu. Di antara salat yang sangat dianjurkan adalah:
Dua rakaat sebelum Subuh (paling ditekankan)

Empat rakaat sebelum Zuhur dan dua rakaat setelahnya

Dua rakaat setelah Maghrib

Dua rakaat setelah Isya

Rasulullah ﷺ tidak pernah meninggalkan salat sunnah Subuh meski dalam kondisi safar. Beliau bersabda:
“Dua rakaat sebelum Subuh lebih baik dari dunia dan seisinya.” (HR. Muslim)
Jamaah yang mengoptimalkan salat rawatib akan memperkuat salat fardhunya, menambah pahala, dan menjaga kedekatan hati kepada Allah. Di Tanah Suci, waktu-waktu ini terasa lebih lapang dan tenang, sehingga sangat cocok dijadikan momen menunaikan rawatib secara rutin.

Salat Witir, Dhuha, dan Tahajud di Tempat Penuh Pahala
Selain rawatib, ada beberapa salat sunnah lainnya yang sangat dianjurkan di Mekkah dan Madinah:
Salat Witir: Penutup salat malam, sangat dianjurkan untuk menjaga keseimbangan ruhani, bisa satu rakaat atau lebih.

Salat Dhuha: Dilakukan saat matahari mulai naik (sekitar pukul 07.00–11.00). Dianjurkan sebagai bentuk syukur dan pembuka rezeki.

Salat Tahajud: Dilaksanakan di sepertiga malam terakhir. Tempat terbaik melakukannya adalah di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, karena suasananya sangat kondusif untuk khusyuk.

Mengerjakan salat-salat ini di dua masjid suci tak hanya memberi pahala berlipat, tetapi juga menguatkan ruhani dan menjaga ritme ibadah harian agar tetap tinggi hingga kembali ke tanah air.

Tips Menjaga Jadwal Salat Sunnah di Tengah Aktivitas Padat
Tidak sedikit jamaah merasa kesulitan menjaga salat sunnah karena padatnya jadwal rombongan atau kelelahan fisik. Berikut beberapa kiat praktis:
Gunakan waktu menunggu iqamah atau sebelum salat fardhu untuk salat sunnah.

Hindari keluar masjid setelah salat fardhu—gunakan waktu untuk salat rawatib dan dzikir.

Jadikan witir dan tahajud sebagai rutinitas malam, minimal dengan 1–3 rakaat.

Bagi yang sulit bangun malam, kerjakan witir sebelum tidur.

Bawa sajadah kecil atau kain bersih agar bisa salat di tempat yang memungkinkan, termasuk di area pelataran masjid.

Dengan manajemen waktu dan niat yang kuat, salat sunnah tetap bisa dijaga, bahkan di tengah kesibukan ibadah utama lainnya.

Spirit Memperbanyak Salat Sunnah Selama di Tanah Suci
Ibadah sunnah bukan hanya pelengkap, melainkan bukti cinta dan penghambaan yang lebih dalam kepada Allah. Orang yang menjaga salat sunnah akan semakin dekat dengan Allah, sebagaimana hadits Qudsi:
“Hamba-Ku terus mendekat kepada-Ku dengan amalan-amalan sunnah hingga Aku mencintainya.” (HR. Bukhari)
Selama di Mekkah dan Madinah, kondisi spiritual yang tinggi, suasana masjid yang tenang, dan kemudahan untuk beribadah menjadi momentum terbaik memperbanyak salat sunnah. Jangan sia-siakan keberadaan di tempat suci hanya untuk tidur atau belanja, sementara pahala berlipat-lipat sedang terbuka lebar.

Menjadikan Salat Sunnah Sebagai Penguat Ibadah Utama
Salat sunnah berfungsi sebagai penambal kekurangan salat wajib. Ketika salat fardhu seseorang tidak sempurna, maka salat sunnah akan menyempurnakannya. Di Tanah Suci, salat sunnah menjadi benteng jiwa dari kelalaian dan menjadi cermin kecintaan terhadap ibadah.
Setelah pulang ke tanah air, usahakan menjaga semangat salat sunnah yang telah terbiasa dilakukan selama di Haramain. Inilah salah satu bentuk kemabruran dalam perjalanan ibadah, yaitu istiqamah dalam kebiasaan baik, tidak hanya saat berada di Tanah Suci.