Ketika seseorang diberi kesempatan untuk beribadah di Tanah Suci, sejatinya bukan hanya salat fardhu yang perlu diperhatikan, tetapi juga salat-salat sunnah yang bernilai tinggi. Dua di antaranya yang sering diremehkan padahal sangat besar keutamaannya adalah salat rawatib dan dhuha. Keduanya merupakan amalan ringan, tidak menguras tenaga, namun sangat bernilai dalam mendekatkan diri kepada Allah, terutama ketika dilaksanakan di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi yang pahalanya berlipat ganda. Artikel ini akan mengupas pentingnya menjaga salat sunnah ini sebagai penopang ibadah utama, baik saat umrah maupun setelah kembali ke tanah air.
Jenis-Jenis Salat Sunnah yang Utama Dikerjakan
Dalam khazanah fiqih Islam, banyak salat sunnah yang dianjurkan, di antaranya salat rawatib, dhuha, tahajud, witir, dan salat sunnah mutlak. Di antara semua itu, rawatib dan dhuha tergolong sunnah muakkadah (sangat ditekankan) oleh Rasulullah ﷺ. Salat rawatib adalah salat yang mengiringi salat wajib, dilakukan sebelum dan sesudahnya, sementara salat dhuha dilakukan saat matahari naik sepenggalah, biasanya antara pukul 07.00–11.00.
Diriwayatkan dalam hadits shahih bahwa siapa yang menjaga 12 rakaat rawatib dalam sehari, maka akan dibangunkan rumah untuknya di surga (HR. Muslim). Ini menunjukkan bahwa rawatib bukan sekadar pelengkap, tetapi amalan agung yang membuka pintu-pintu kebaikan dan balasan surgawi.
Rawatib sebagai Penopang Salat Wajib
Salat rawatib berfungsi sebagai penyempurna dan pelindung bagi salat wajib yang mungkin kurang khusyuk atau terjadi kekurangan. Seperti halnya dinding penopang pada bangunan, salat rawatib menjaga agar kualitas ibadah utama tetap kokoh. Dalam riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi disebutkan bahwa salat sunnah bisa menutupi kekurangan dari salat fardhu pada hari kiamat.
Di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, salat rawatib menjadi momen yang sangat istimewa karena satu salat di dua masjid suci tersebut bernilai 100.000 dan 1.000 kali lipat dibanding masjid lainnya. Maka, akan sangat disayangkan jika kesempatan langka ini tidak dimaksimalkan dengan memperbanyak salat sunnah yang bisa dilakukan hanya dalam beberapa menit.
Dhuha sebagai Amalan Pengundang Rezeki
Salat dhuha dikenal sebagai salat yang mendatangkan keberkahan dan membuka pintu rezeki. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Pada setiap sendi tubuh manusia wajib ditunaikan sedekah setiap harinya… Dan dua rakaat di waktu dhuha bisa menggantikan itu semua.” (HR. Muslim)
Salat ini menjadi simbol syukur dan ketergantungan seorang hamba pada Rabb-nya. Bagi jamaah umrah, dhuha bisa dilakukan di sela waktu antara salat Subuh dan Zuhur. Banyak yang memilih melaksanakannya di Masjidil Haram setelah selesai thawaf atau sa’i. Di Masjid Nabawi, suasana pagi yang tenang sangat mendukung kekhusyukan salat dhuha.
Memanfaatkan Waktu Sela untuk Ibadah Ringan
Salah satu tantangan jamaah selama umrah adalah waktu tunggu yang cukup panjang, baik saat menunggu rombongan, bus, maupun jadwal ziarah. Waktu ini sebenarnya sangat berpotensi digunakan untuk shalat sunnah mutlak, dzikir, atau membaca Al-Qur’an. Mengisi waktu kosong dengan ibadah ringan adalah ciri orang yang mencintai akhirat dan tidak ingin menyia-nyiakan setiap kesempatan.
Salat sunnah mutlak bisa dilakukan kapan saja (selain waktu terlarang), dan hanya butuh waktu beberapa menit. Di Masjidil Haram dan Nabawi, duduk di tempat salat sambil berdzikir atau mengerjakan dua rakaat akan memperkuat koneksi spiritual dan memperbanyak pahala harian.
Keistimewaan Salat di Dua Masjid Suci
Tidak ada tempat di bumi ini yang lebih mulia untuk melaksanakan salat selain di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Satu rakaat salat di Masjidil Haram setara dengan 100.000 rakaat di tempat lain, dan satu rakaat di Masjid Nabawi bernilai 1.000 rakaat. Oleh karena itu, jamaah sangat dianjurkan untuk memperbanyak salat sunnah selama berada di sana.
Bahkan jika hanya dua rakaat salat dhuha atau rawatib, di Masjidil Haram nilainya bisa setara dengan ratusan ribu rakaat di masjid lain. Kesempatan luar biasa ini hendaknya tidak disia-siakan dengan hanya beristirahat atau beraktivitas yang kurang bermanfaat.
Menjaga Konsistensi Salat Sunnah Selama dan Sesudah Umrah
Nilai salat sunnah tidak hanya berhenti saat berada di Tanah Suci. Spiritnya harus dibawa pulang dan dijadikan kebiasaan harian. Banyak orang merasa spiritualitasnya meningkat selama umrah karena suasana dan lingkungan sangat kondusif. Namun, tantangannya adalah menjaga semangat itu saat kembali ke rutinitas biasa.
Salah satu cara menjaganya adalah dengan membuat jadwal pribadi untuk salat sunnah dan menjadikannya sebagai bagian dari ibadah harian. Bahkan dua rakaat setiap pagi atau sebelum tidur bisa menjadi penopang kekuatan ruhani. Inilah bentuk keberlanjutan dari ibadah umrah yang mabrur dan berdampak nyata.