Perjalanan umrah tidak hanya tentang melaksanakan rukun-rukunnya secara sah, tetapi juga memperbanyak amalan sunnah yang bisa menyempurnakan nilai ibadah. Salah satu bentuk ibadah yang sangat dianjurkan selama berada di Tanah Suci adalah shalat sunnah, baik yang memiliki waktu khusus maupun yang dilakukan secara mutlak. Banyak jamaah umrah yang merasakan keindahan tersendiri saat mendirikan shalat di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi, apalagi pada waktu-waktu mustajab yang telah ditunjukkan dalam sunnah. Artikel ini mengajak pembaca untuk memahami jenis-jenis shalat sunnah, keutamaannya, serta bagaimana menjadikannya pusat rutinitas selama umrah.

Penjelasan Shalat Witir, Sunnah Subuh, dan Rawatib
Shalat sunnah yang paling ditekankan selama umrah adalah shalat witir, sunnah qabliyah dan ba’diyah, serta dua rakaat sebelum subuh. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Dua rakaat sebelum subuh lebih baik dari dunia dan seisinya.”
(HR. Muslim)
Shalat witir bisa dilakukan setelah shalat malam atau sebelum tidur, dan sangat dianjurkan untuk tidak meninggalkannya, apalagi selama berada di Tanah Suci. Witir adalah bentuk penutup amal malam dan pertanda cinta kepada Allah.
Shalat sunnah rawatib mengiringi shalat fardhu dan menjadi pelindung bagi shalat wajib. Baik di Masjidil Haram maupun Nabawi, keutamaan rawatib semakin besar karena satu rakaat dilipatgandakan hingga seratus ribu kali (di Haram) dan seribu kali (di Nabawi), sebagaimana disebutkan dalam hadits shahih.

Waktu-Waktu yang Ditekankan untuk Memperbanyak Salat
Dalam Islam, terdapat waktu-waktu utama yang disarankan untuk memperbanyak ibadah, terutama shalat sunnah. Di antaranya adalah:
Setelah subuh hingga syuruq (menjelang terbit matahari)

Antara adzan dan iqamah

Setelah azan maghrib

Sepertiga malam terakhir

Waktu sepertiga malam terakhir sangat utama untuk shalat tahajjud dan witir, karena di waktu ini Allah ﷻ turun ke langit dunia dan mengabulkan doa hamba-Nya yang bersimpuh. Di Tanah Suci, banyak jamaah menyempatkan diri bangun malam, tidak hanya karena keutamaannya, tetapi juga karena suasana yang mendukung kekhusyukan.
Waktu antara adzan dan iqamah juga merupakan saat yang mustajab untuk doa dan sunnah rawatib. Di Masjidil Haram, suasana ini sangat menggetarkan karena gema adzan disambut ribuan jamaah yang berzikir dan menunaikan sunnah.

Keutamaan Shalat di Masjidil Haram dan Nabawi
Shalat sunnah yang biasa kita lakukan di rumah, ketika dilakukan di Masjidil Haram atau Nabawi, akan mendapat pahala yang luar biasa besar. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Shalat di masjidku ini lebih utama dari seribu shalat di masjid lainnya, kecuali Masjidil Haram.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Dan shalat di Masjidil Haram lebih utama dari seratus ribu rakaat di tempat lain (HR. Ahmad, Thabrani). Oleh sebab itu, setiap kesempatan berada di masjid ini hendaknya dimanfaatkan untuk mengisi waktu dengan shalat sunnah, tidak hanya menunggu waktu fardhu.
Bahkan saat berada di hotel dekat masjid, banyak ulama menganjurkan untuk tetap berusaha hadir ke masjid jika memungkinkan, karena ganjaran pahala yang sangat besar ini tidak bisa diperoleh di tempat lain. Shalat sunnah di Tanah Suci adalah kesempatan emas yang sayang jika dilewatkan.

Salat Sunnah Mutlak sebagai Pengisi Waktu Luang
Selain shalat sunnah yang memiliki sebab atau waktu, ada pula shalat sunnah mutlak, yaitu shalat sunnah yang bisa dilakukan kapan saja (selain waktu-waktu terlarang). Jenis shalat ini sangat cocok dilakukan ketika sedang menunggu jadwal kegiatan atau setelah selesai thawaf.
Di Masjidil Haram, banyak jamaah mengisi waktu luang dengan shalat sunnah dua rakaat di dekat Ka’bah atau di Raudhah (jika berada di Madinah). Momen ini menjadi cara terbaik untuk mengikat hati dengan Allah, merasakan ketenangan, dan memperdalam rasa syukur.
Shalat sunnah mutlak juga menjadi bentuk syukur dan cinta seorang hamba kepada Allah. Tak perlu menunggu sebab, cukup niat dan kesiapan hati. Itulah sebabnya, para ulama menyebut shalat sunnah mutlak sebagai “shalat cinta” seorang hamba.

Menggabungkan Shalat Sunnah dengan Dzikir dan Doa
Setiap shalat sunnah sebaiknya dilanjutkan dengan dzikir dan doa, karena momen setelah shalat adalah waktu mustajab. Apalagi bila dilakukan di Masjidil Haram atau Nabawi. Perbanyaklah dzikir pagi dan sore, tasbih, tahmid, takbir, serta istighfar.
Dzikir bukan hanya pelengkap, tapi bagian dari rangkaian ibadah. Shalat sunnah tanpa dzikir ibarat tubuh tanpa jiwa. Rasulullah ﷺ juga mengajarkan doa-doa tertentu setelah shalat, termasuk doa perlindungan, permohonan rezeki, dan ampunan.
Banyak jamaah menjadikan momen ini untuk berdoa bagi keluarga, anak, atau negeri, dan berharap keberkahan dari tempat yang mulia. Kombinasi shalat sunnah, dzikir, dan doa menciptakan pengalaman spiritual yang dalam dan mengikat hati dengan Allah secara lebih utuh.

Menjadikan Salat sebagai Pusat Rutinitas Ibadah
Selama umrah, aktivitas utama jamaah adalah ibadah, dan pusat dari seluruh ibadah adalah salat. Jadwal harian jamaah hendaknya dibangun dari waktu-waktu salat, terutama salat fardhu. Di sela-selanya, isilah dengan shalat sunnah, dzikir, membaca Qur’an, dan muhasabah.
Kebiasaan ini tidak hanya akan membuat waktu di Tanah Suci lebih berkah, tapi juga menjadi fondasi untuk kebiasaan hidup setelah pulang. Banyak jamaah yang melanjutkan kebiasaan salat sunnah dan tahajjud karena mereka terbiasa saat berada di Mekkah atau Madinah.
Salat sunnah bukan hanya ibadah tambahan, tetapi sarana penguat hubungan dengan Allah. Menjadikannya sebagai pusat rutinitas akan melatih kedisiplinan, ketenangan batin, dan mendekatkan kita pada maqam hamba yang dicintai-Nya.