Masjid Nabawi bukan hanya salah satu masjid terbesar dan terindah di dunia Islam, tapi juga tempat yang penuh sejarah dan spiritualitas. Berziarah ke tempat ini bukan sekadar kunjungan fisik, melainkan perjalanan hati menuju kecintaan pada Rasulullah ﷺ. Dalam kitab Minhajul Muslim, Syaikh Abu Bakar al-Jazairi menyampaikan adab, hukum, dan faedah ziarah ke Madinah sebagai bagian penting dari kehidupan seorang Muslim. Artikel ini akan mengupas panduan ziarah ke Masjid Nabawi sesuai dengan nilai-nilai fiqih dan adab Islami yang bersumber dari kitab tersebut.
Hukum dan Keutamaan Ziarah ke Masjid Nabawi
Dalam Minhajul Muslim, disebutkan bahwa ziarah ke Masjid Nabawi bukan bagian dari rukun haji, namun sangat dianjurkan (sunnah muakkadah) bagi mereka yang telah sampai ke Tanah Suci.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Janganlah kalian mengadakan perjalanan (ibadah) kecuali ke tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidku ini, dan Masjid Al-Aqsha.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Keutamaan Masjid Nabawi sangat besar. Satu shalat di dalamnya bernilai lebih baik dari seribu salat di masjid lain (kecuali Masjidil Haram). Maka, menziarahi masjid ini dengan niat ibadah dan cinta kepada Nabi ﷺ merupakan amalan yang mendekatkan diri kepada Allah. Ziarah ke Masjid Nabawi juga mempererat hubungan ruhani seorang Muslim dengan Rasulullah ﷺ dan jejak perjuangannya. Ziarah ini bukan hanya mengenang, tetapi juga memperdalam kecintaan dan tekad meneladani akhlak beliau.
Adab Saat Memasuki Masjid Rasulullah ﷺ
Minhajul Muslim mengajarkan bahwa memasuki Masjid Nabawi harus diawali dengan adab dan etika tinggi. Sebelum melangkah ke dalam, dianjurkan membaca doa masuk masjid, melangkah dengan kaki kanan, dan berniat untuk beribadah—bukan untuk sekadar jalan-jalan atau berfoto.
Saat masuk, hendaknya menjaga kekhusyukan, tidak berbicara keras, dan langsung menuju shalat tahiyyatul masjid. Bila memungkinkan, mendekatlah ke Raudhah untuk salat dan berdoa, meski harus bersabar dalam antrian dan kerumunan.
Banyak jamaah yang terbuai oleh suasana hingga lupa adab. Padahal, menjaga suara, pandangan, dan niat adalah bagian dari penghormatan kepada tempat yang mulia ini. Ulama menekankan bahwa semakin tinggi rasa hormat kita kepada Masjid Rasulullah ﷺ, semakin besar keberkahan ziarah itu.
Lokasi Penting di Dalam Masjid Nabawi
Masjid Nabawi bukan hanya tempat salat, tetapi juga rumah sejarah. Di dalamnya terdapat Raudhah, yang oleh Nabi ﷺ disebut sebagai “Taman surga”—area di antara rumah beliau dan mimbar. Shalat di Raudhah adalah impian setiap Muslim, karena tempat itu diyakini mustajab untuk doa.
Selain Raudhah, ada makam Rasulullah ﷺ bersama Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma. Tiga sahabat besar ini dimakamkan di kamar Aisyah yang kini menyatu dengan masjid. Namun, para ulama mengingatkan agar saat di depan makam, kita berdoa dengan penuh adab, tidak menyembah atau meminta langsung kepada Nabi, tapi mendoakan beliau dan mengucapkan salam sebagaimana diajarkan.
Kitab Minhajul Muslim juga menekankan bahwa tempat-tempat seperti mimbar Rasul, mihrab lama, dan pilar-pilar sejarah bukan untuk disucikan secara berlebihan, tapi cukup dihormati sebagai bagian dari warisan sejarah Islam.
Fiqih Berziarah dan Menghindari Kemusyrikan
Syaikh Abu Bakar al-Jazairi menekankan bahwa ziarah ke makam Rasulullah ﷺ adalah ibadah sunnah, dan harus dijalankan sesuai akidah yang lurus. Sayangnya, banyak orang terjebak dalam kesalahan fiqih, seperti meminta syafaat langsung kepada Nabi ﷺ, menyentuh pagar makam untuk berkah, bahkan menyembelih hewan sebagai nazar di dekatnya—semua ini dilarang. Islam melarang segala bentuk syirik kecil maupun besar. Ziarah yang benar adalah dengan mengucapkan salam, berdoa kepada Allah, dan mengingat perjuangan Nabi.
Tidak ada tuntunan dari Rasulullah ﷺ untuk mengusap-usap bangunan atau meminta sesuatu kepada ruh beliau. Minhajul Muslim secara tegas membimbing agar ziarah dilandasi tauhid, bukan taklid. Jamaah umrah dan haji diajak untuk menyucikan niat dan menahan diri dari perilaku yang tidak dicontohkan Nabi ﷺ maupun para sahabat.
Mengisi Waktu di Madinah dengan Amal Ibadah
Ziarah ke Masjid Nabawi hendaknya dimanfaatkan untuk memperbanyak ibadah dan muhasabah, bukan hanya wisata religi. Banyak jamaah yang terlalu sibuk dengan aktivitas luar sehingga melupakan shalat berjamaah di Masjid Nabawi, padahal pahala di dalamnya begitu besar. Minhajul Muslim mengajarkan agar jamaah menyempatkan waktu untuk membaca Al-Qur’an, memperbanyak dzikir, shalat sunnah, dan sedekah selama di Madinah. Di kota yang diberkahi ini, setiap amal kecil dilipatgandakan nilainya.
Jamaah juga disarankan untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah seperti Jabal Uhud, Masjid Quba, dan Masjid Qiblatain sebagai sarana belajar dan memperkuat semangat perjuangan. Tapi semua itu harus tetap dalam bingkai ibadah, bukan sekadar turisme biasa.
Menjaga Hati Saat Berada di Dekat Makam Nabi ﷺ
Salah satu momen paling menggetarkan hati bagi setiap Muslim adalah saat berada di depan makam Rasulullah ﷺ. Di sinilah umat diminta untuk menjaga hati dari sikap berlebihan maupun lalai. Minhajul Muslim menekankan agar jamaah tidak menangis histeris, tidak bersandar pada tembok makam, dan tidak mengangkat suara saat berdoa. Sebaliknya, ziarah seharusnya dilakukan dengan penuh rasa syukur, tenang, dan penuh cinta kepada Nabi.
Ulama menjelaskan bahwa yang paling utama adalah mengamalkan sunnah Rasulullah ﷺ setelah ziarah. Kecintaan yang benar bukan hanya tampak dalam air mata, tetapi juga dalam keteladanan perilaku, kejujuran, dan akhlak sehari-hari. Berziarah ke makam Rasulullah ﷺ adalah anugerah besar. Maka jagalah kesuciannya dengan sikap rendah hati dan rasa tunduk kepada Allah ﷻ. Jadikan momen itu sebagai penguat komitmen untuk hidup dalam nilai-nilai kenabian.