Dalam era globalisasi, peran umat Islam bukan hanya terbatas pada komunitas lokal, tapi telah merambah ke ranah internasional. Hal ini tercermin dalam momen ketika Ustadz Adi Hidayat (UAH) bertemu dengan ulama dari berbagai negara saat berada di Tanah Suci. Pertemuan tersebut membuka mata bahwa Islam adalah agama yang luas, universal, dan penuh keberagaman dalam kesatuan akidah. Artikel ini menggali makna ukhuwah Islamiyah lintas negara, pelajaran dari cara dakwah para ulama dunia, dan pesan persatuan yang disampaikan UAH sebagai refleksi menjadi Muslim global.

 

Momen UAH Berdialog dengan Ulama dari Berbagai Negara

Pertemuan UAH dengan para ulama dari Timur Tengah, Afrika, Eropa, dan Asia Tenggara terjadi dalam suasana penuh kehangatan dan saling menghormati. Meski datang dari latar budaya dan bahasa yang berbeda, diskusi mereka menyatu dalam semangat keislaman yang tulus.

UAH menyampaikan bahwa dialog ini bukan sekadar silaturahmi biasa, tetapi momen berbagi pandangan tentang dakwah, pendidikan Islam, dan kondisi umat saat ini. Ia berdiskusi dengan ulama dari Mesir mengenai metode pengajaran tafsir, bertukar pengalaman dengan dai Nigeria soal tantangan dakwah di daerah konflik, hingga berbagi strategi pendidikan Al-Qur’an dengan ulama dari Malaysia dan Turki.

Yang menarik, tidak ada nuansa saling merasa benar sendiri, melainkan suasana saling melengkapi dan menghargai perbedaan pendekatan. Ini menjadi cerminan nyata bahwa Islam mengajarkan adab berdialog dan kelapangan dada dalam perbedaan.

l

Nilai-Nilai Ukhuwah Islamiyah Lintas Negara dan Mazhab

Pertemuan lintas negara ini menguatkan pesan bahwa ukhuwah Islamiyah tidak mengenal batas geografis. Meski berbeda mazhab atau tradisi ibadah, para ulama menunjukkan bahwa ruh persaudaraan Islam jauh lebih kuat dari perbedaan-perbedaan tersebut.

UAH menyampaikan bahwa ukhuwah dibangun atas dasar keimanan kepada Allah dan cinta kepada Rasulullah ﷺ. Ia menegaskan bahwa umat Islam akan menjadi kuat bila saling mendukung, bukan saling menjatuhkan. Dalam suasana itu, ukhuwah terasa bukan sebagai slogan, tetapi realitas hidup yang dijalani dengan penuh kesadaran.

Para ulama saling mendoakan, saling mendengarkan pengalaman masing-masing, bahkan membahas kemungkinan kolaborasi program dakwah internasional. UAH menyebut ini sebagai bentuk “diplomasi ruhiyah”, di mana hati para pejuang Islam menyatu tanpa sekat politik dan nasionalitas.

 

Persamaan dan Perbedaan dalam Cara Berdakwah

Dalam pertemuan itu, UAH mengamati bahwa setiap ulama memiliki pendekatan dakwah yang beragam, menyesuaikan dengan kondisi umat di negara masing-masing. Ada yang fokus pada pendidikan tahfidz di pedalaman Afrika, ada yang membangun dialog antaragama di Eropa, dan ada pula yang mengembangkan dakwah digital di Asia.

Namun di tengah semua perbedaan metode, mereka memiliki satu tujuan: menyebarkan cahaya Islam dengan hikmah dan kasih sayang. UAH menegaskan bahwa perbedaan metode bukan penghalang untuk saling belajar dan berkembang, justru menjadi kekayaan dakwah global.

Ia menyampaikan bahwa dakwah tidak bisa disamaratakan, tapi harus kontekstual. Apa yang berhasil di Indonesia belum tentu sesuai di Timur Tengah, dan sebaliknya. Maka yang terpenting adalah menjaga akhlak, adab ilmu, dan keikhlasan dalam menyampaikan pesan agama.

 

Pelajaran dari Wawasan Global yang Dibagikan

Dari interaksi ini, UAH memperoleh pelajaran bahwa umat Islam di seluruh dunia menghadapi tantangan berbeda—tetapi punya harapan yang sama. Tantangan Islamofobia di Eropa, konflik politik di Timur Tengah, hingga kemiskinan dan kurangnya akses pendidikan di Afrika menjadi catatan penting.

Namun di sisi lain, semangat umat untuk bangkit juga sangat besar. Para ulama muda di berbagai negara sedang giat membangun sekolah Islam, mendirikan media dakwah, dan memperkuat literasi Al-Qur’an.

UAH mengajak jamaah untuk tidak hanya sibuk pada lingkaran lokal, tapi juga mulai berpikir global. Ia mengatakan:

“Kalau umat Islam di dunia saling berbagi ilmu dan semangat, maka kita akan menjadi umat terbaik yang benar-benar membawa rahmat bagi seluruh alam.”

 

Pesan UAH: “Islam Tidak Sempit, Jangan Menyempitkan”

Pesan utama yang disampaikan UAH dari pertemuan ini adalah bahwa Islam itu luas dan lapang, sehingga tidak pantas jika umat mempersempitnya dengan fanatisme kelompok, semangat saling menyalahkan, atau kebencian sesama Muslim.

Beliau berkata tegas:

“Islam tidak sempit. Jangan menyempitkan Islam dengan pemahaman yang dangkal. Belajarlah, dengarkan, dan hormatilah perbedaan.”

Dengan cara ini, umat Islam bisa maju, kokoh dalam akidah tapi lapang dalam perbedaan. Kita diajak bukan hanya menjadi Muslim yang baik di negara sendiri, tetapi juga Muslim global yang siap membawa Islam ke panggung dunia dengan wajah yang teduh, moderat, dan berwibawa.

 

Spirit Persatuan Umat yang Harus Dijaga

UAH mengajak seluruh jamaah dan masyarakat Muslim Indonesia untuk mengambil pelajaran dari momen ini: jangan mudah terprovokasi oleh perbedaan furu’iyah, apalagi memecah belah ukhuwah hanya karena perbedaan cara beribadah atau tokoh panutan.

Ia menyampaikan bahwa persatuan umat bukan utopia, tapi tanggung jawab yang harus diperjuangkan. Persatuan ini bisa dimulai dari hal kecil: menjaga lisan, menghormati guru yang berbeda pandangan, serta tidak mudah menilai iman orang lain.

“Kalau Islam bisa mempersatukan hati-hati dari seluruh dunia, kenapa kita justru saling menjauh hanya karena hal-hal kecil?” tutup UAH dalam refleksinya.