Umrah bukan hanya perjalanan spiritual pribadi, tetapi juga pengalaman global yang mempertemukan umat Islam dari berbagai penjuru dunia. Di tengah perbedaan bahasa, budaya, warna kulit, dan mazhab, jamaah umrah bersatu dalam satu barisan, menghadap satu kiblat, dan menyembah Tuhan yang sama. Salah satu momen paling berkesan dari rombongan Ustadz Adi Hidayat (UAH) adalah saat beliau memimpin umrah bersama jamaah dari 10 negara berbeda. Artikel ini mengangkat kisah keberagaman yang justru menjadi kekuatan, serta nilai ukhuwah Islamiyah yang tumbuh dari ibadah bersama di Tanah Suci.
1. Kisah Jamaah UAH yang Terdiri dari Berbagai Negara
Dalam salah satu program umrah internasional yang dipimpin UAH, tercatat jamaah datang dari lebih dari 10 negara, di antaranya Indonesia, Malaysia, Brunei, Turki, Mesir, Yaman, Sudan, Prancis, Inggris, dan Jepang. Mereka datang dari latar belakang yang beragam: akademisi, pengusaha, mahasiswa, bahkan mualaf. Namun, semua berkumpul dengan satu tujuan — memenuhi panggilan Allah di Tanah Suci.
UAH menyambut mereka dengan hangat, memberikan bimbingan dengan bahasa yang disesuaikan dan diselingi penerjemah. Suasana kebersamaan pun tumbuh sejak keberangkatan. Meski banyak yang baru bertemu, terasa seperti keluarga yang sudah lama saling mengenal. Di setiap agenda bersama, terlihat keakraban yang tidak dibuat-buat — saling menolong, saling memayungi, dan saling tersenyum.
Kisah ini membuktikan bahwa umrah adalah momen di mana perbedaan menjadi jembatan, bukan jurang pemisah. Setiap jamaah membawa semangat yang sama: mencari ridha Allah.
2. Keberagaman Bahasa, Budaya, dan Mazhab dalam Satu Shaf
Salah satu pemandangan paling indah adalah ketika jamaah dari berbagai negara berdiri dalam satu shaf saat salat berjamaah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Tak ada lagi perbedaan suku, warna kulit, atau kebangsaan. Semua mengenakan pakaian ihram yang sama, wajah tertunduk khusyuk menghadap Ka’bah.
Dalam suasana seperti itu, perbedaan bahasa tidak menjadi penghalang. Seorang jamaah dari Jepang memeluk jamaah dari Sudan setelah thawaf, meski mereka tak saling mengerti secara verbal. Hati mereka sudah bicara lebih dulu. Seorang pemuda Prancis mengantar kursi roda jamaah Indonesia tanpa diminta, hanya karena melihat senyuman dan gerakan tangan.
UAH pernah berkata, “Inilah bukti nyata bahwa Islam itu satu. Yang berbeda hanya kulit luarnya saja. Tapi ruhnya tetap satu: tauhid dan cinta sesama.” Melalui momen umrah, perbedaan mazhab pun mencair menjadi saling menghargai. Tidak ada perdebatan, yang ada hanya kedekatan dalam dzikir dan doa.
3. UAH: “Islam Itu Satu, yang Beda Hanya Kulit Luar”
Dalam salah satu tausiyah di depan jamaah multinasional, UAH menegaskan bahwa perbedaan adalah bagian dari keindahan Islam, bukan sumber perpecahan. Beliau mengutip ayat dalam Al-Qur’an: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal.” (QS Al-Hujurat: 13)
UAH kemudian melanjutkan, “Yang Allah mau dari kalian bukan keseragaman budaya, tapi kesatuan hati dan akhlak.” Tausiyah ini disambut haru oleh para jamaah. Beberapa di antara mereka mengaku, untuk pertama kalinya mereka merasa diterima sepenuhnya sebagai bagian dari keluarga besar umat Islam.
Di tengah banyaknya konflik dunia, pengalaman umrah ini menjadi oase persaudaraan yang menyentuh. UAH berhasil menghidupkan semangat Islam rahmatan lil alamin — bahwa Islam datang bukan untuk menyeragamkan, tapi untuk menyatukan hati dalam iman.
4. Momen Persaudaraan yang Menyatukan Tanpa Kata-Kata
Salah satu momen paling menyentuh adalah ketika jamaah dari 10 negara ini melakukan thawaf bersama. Beberapa dari mereka tidak bisa bahasa Arab atau Inggris, namun ketika takbir dan doa dilantunkan, semua meresapi dengan mata berkaca-kaca.
Seorang jamaah Malaysia membagikan air zam-zam kepada jamaah Nigeria tanpa diminta. Seorang pria asal Turki menyeka air mata seorang mualaf dari Kanada saat duduk di pelataran Masjidil Haram. Tak satu kata pun diucapkan, tetapi semua terasa seperti keluarga besar yang telah lama terikat oleh cinta yang sama — cinta kepada Allah.
Inilah kekuatan ibadah kolektif di Tanah Suci. Ia mengajarkan bahwa persaudaraan tak butuh bahasa, cukup dengan keikhlasan dan kepedulian. Umrah menyatukan mereka yang sebelumnya tak saling kenal, menjadi sahabat sejiwa karena mereka berjalan di jalan yang sama — menuju Allah.
5. Pelajaran Ukhuwah Islamiyah dalam Ibadah Bersama
Dari keberagaman jamaah inilah muncul pelajaran penting tentang ukhuwah Islamiyah. Umrah bukan hanya tentang menyempurnakan rukun dan wajib, tetapi juga tentang melatih hati untuk menerima dan mencintai sesama Muslim, apapun latar belakangnya.
UAH menekankan bahwa ukhuwah bukan dimulai dari kesamaan pandangan, tetapi dari kesediaan untuk saling mendengarkan dan memahami. “Kalau kalian bisa bersama di depan Ka’bah, kenapa tidak bisa bersama setelah pulang?” ujar beliau.
Bagi banyak jamaah, pengalaman umrah ini membangkitkan semangat untuk lebih terbuka dan toleran dalam kehidupan sehari-hari. Mereka mulai sadar bahwa Islam terlalu besar untuk dibatasi oleh perbedaan-perbedaan kecil, dan terlalu mulia untuk dikerdilkan oleh ego pribadi.
6. Spirit Global Islam yang Membesarkan Hati Jamaah
Setelah pulang ke negara masing-masing, banyak jamaah mengungkapkan bahwa umrah bersama ini telah membuka mata mereka terhadap dimensi global Islam. Mereka merasa bagian dari umat yang besar, yang saling mendukung dalam ibadah dan dalam kehidupan.
Jamaah Indonesia merasa lebih dekat dengan Muslim dari Afrika. Jamaah Jepang menjadi lebih percaya diri dalam identitas keislamannya. Bahkan, beberapa peserta dari Eropa mengaku bahwa pengalaman umrah ini menjadi titik balik dalam perjalanan spiritual mereka.
UAH menutup kebersamaan itu dengan pesan yang mendalam: “Jangan hanya membawa oleh-oleh dari Makkah, tapi bawa pulang ukhuwah dan cinta sesama umat. Karena itulah yang akan menyatukan kita di surga nanti.”
1 Komentar
Vella Taqiyyah
September 22, 2025 pukul 3:32 amMasya allah