Perjalanan umrah tak hanya tentang menjalankan rukun ibadah, tetapi juga menyusuri jejak sejarah yang membentuk fondasi keimanan umat Islam. Salah satu tempat yang sarat makna adalah Bukit Tsur, lokasi persembunyian Nabi Muhammad ﷺ bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam peristiwa hijrah. Dalam salah satu momen city tour bersama jamaah, Ustadz Adi Hidayat (UAH) mengajak peserta napak tilas ke tempat ini, bukan sekadar mengenang, tapi juga memetik hikmah mendalam: tentang tawakal, ikhtiar, dan keyakinan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.

 

1. Sejarah Singkat Bukit Tsur dan Peristiwa Hijrah Rasulullah SAW

Bukit Tsur terletak sekitar 5 km di selatan Makkah, dan dikenal sebagai tempat Rasulullah ﷺ bersembunyi selama tiga hari bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq sebelum melanjutkan hijrah ke Madinah. Di puncaknya terdapat Gua Tsur, tempat keduanya berteduh dari kejaran kaum Quraisy yang hendak menggagalkan hijrah.

Peristiwa ini tercatat dalam QS. At-Taubah: 40, ketika Abu Bakar merasa cemas dan Rasulullah ﷺ menenangkannya dengan berkata, “Lā taḥzan, innallāha ma‘anā” — “Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Kalimat ini kemudian menjadi simbol kekuatan iman dalam situasi terdesak.

UAH membuka sesi penjelasan dengan menceritakan latar belakang ayat tersebut dan bagaimana tempat ini menjadi saksi sejarah luar biasa dari perjuangan dakwah Islam yang penuh risiko dan pengorbanan.

 

2. UAH Menjelaskan Strategi dan Spiritualitas dalam Persembunyian Nabi

Selama berada di lokasi, UAH tidak hanya menyampaikan kronologi sejarah, tetapi juga membedah strategi dan nilai spiritual di balik keputusan Rasulullah ﷺ. Beliau menekankan bahwa Nabi tidak hanya tawakal, tetapi juga penuh perhitungan: dari memilih jalur tidak biasa menuju Yatsrib, menugaskan Asma’ binti Abu Bakar membawa bekal, hingga menyuruh Abdullah bin Abu Bakar memantau informasi dari Makkah.

UAH mengatakan, “Hijrah ini bukan pelarian, tapi strategi dakwah. Ada kombinasi antara tawakal kepada Allah dan perencanaan matang yang harus kita teladani.”

Nilai spiritualitas tampak dari sikap tenang Rasulullah ﷺ meski dalam kondisi terjepit. Di saat seluruh pasukan Quraisy menyisir wilayah sekitar, beliau tetap berzikir dan menguatkan Abu Bakar dengan kalimat tauhid. Keteladanan inilah yang menjadi pelajaran penting: ketenangan hati lahir dari keimanan yang kokoh.

 

3. Nilai Tawakal dan Ikhtiar yang Menyatu Sempurna

Dari kisah Gua Tsur, UAH menekankan pentingnya menyatukan tawakal dan ikhtiar. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha, dan ikhtiar tanpa tawakal bisa berubah menjadi kesombongan. Rasulullah ﷺ mengajarkan bagaimana keduanya harus berjalan seiring.

Beliau menggambarkan bahwa dalam hidup, akan ada masa-masa seperti di dalam Gua Tsur—sunyi, gelap, dan terisolasi. Namun, saat kita meyakini bahwa Allah bersama kita, maka tidak ada kesendirian yang benar-benar menakutkan. “Kalau dalam keterbatasan, kita tetap bergerak dan yakin kepada Allah, maka pertolongan itu akan datang,” ujar UAH.

Pelajaran ini sangat relevan dengan kondisi hidup sehari-hari—di saat menghadapi kegagalan, kehilangan pekerjaan, atau tekanan hidup—sikap seperti Nabi dan Abu Bakar di Gua Tsur menjadi kunci bertahan.

 

4. Pelajaran tentang Kesabaran dalam Menghadapi Ujian Besar

UAH juga menyampaikan bahwa sabar adalah kunci dari seluruh peristiwa ini. Rasulullah ﷺ tidak langsung membalas kejahatan Quraisy, tidak menyebarkan ketakutan, tapi menunggu waktu yang tepat. Ini menunjukkan bahwa kesabaran bukan kelemahan, melainkan strategi kemenangan.

Beliau mengutip, “Kesabaran di Gua Tsur adalah fondasi dari pembukaan kota Madinah, dan dari situlah kekuatan Islam bangkit.” Maka, dari ujian kesempitan di gua, lahir kemenangan besar di masa depan.

Jamaah diajak untuk melihat bahwa setiap ujian dalam hidup bukan akhir dari segalanya, melainkan awal dari perubahan dan pembentukan karakter yang lebih kuat.

 

5. Kisah Refleksi Jamaah Setelah Napak Tilas di Lokasi Ini

Setelah mengunjungi Bukit Tsur, banyak jamaah yang merenung. Seorang ayah yang kehilangan pekerjaannya sebelum berangkat mengatakan bahwa kunjungan ini menguatkan hatinya. “Kalau Rasulullah bisa bertahan di gua dengan kesabaran, saya pun bisa bertahan dalam ujian ini,” katanya sambil berlinang air mata.

Seorang ibu yang baru saja melewati masa sulit rumah tangga mengaku bahwa perjalanan ke Gua Tsur membuatnya merasa tidak sendirian. Ia berkata, “Saya merasa Allah masih bersama saya, seperti bersama Nabi di dalam gua.”

Refleksi-refleksi ini menunjukkan bahwa napak tilas bukan hanya melihat sejarah, tetapi juga membangunkan hati. Tempat menjadi saksi, dan kisah Rasulullah ﷺ menjadi pelita yang menerangi jalan jamaah.

 

6. UAH: “Allah Bersamamu Saat Semua Meninggalkanmu”

UAH menutup kunjungan ke Bukit Tsur dengan satu kalimat yang menggugah, diulang berkali-kali hingga terpatri dalam hati jamaah:
“Saat semua pintu tertutup, dan semua manusia pergi meninggalkanmu, yakinlah… Allah tidak pernah meninggalkanmu.”

Beliau mengingatkan bahwa momen-momen terberat dalam hidup adalah ujian keimanan. Jika kita tetap istiqamah, seperti Nabi ﷺ yang tenang dalam gua, maka Allah akan mengirimkan pertolongan-Nya dalam bentuk yang tidak kita sangka.

Kata-kata ini menjadi bekal batin yang dibawa pulang oleh jamaah—bahwa setiap kita memiliki “gua” masing-masing dalam hidup. Dan saat ujian itu datang, yang perlu kita lakukan adalah tetap bergerak, bersabar, dan meyakini satu hal: innaLlaha ma’ana—Allah bersama kita.