Perjalanan umrah atau haji ke Tanah Suci adalah momentum langka yang tidak semua orang bisa rasakan berkali-kali dalam hidup. Karena itu, setiap detik yang dilalui di sana harus dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memperbanyak amal ibadah. Banyak jamaah yang terlalu fokus pada ibadah formal saja, padahal ada amalan-amalan harian sederhana yang jika dikerjakan dengan ikhlas dan konsisten, bisa membawa keberkahan besar. Artikel ini akan membahas 5 amalan ringan namun bermakna yang sebaiknya tidak dilewatkan selama di Mekkah dan Madinah, lengkap dengan tips pembagian waktu dari Ustadz Adi Hidayat (UAH) agar ibadah lebih optimal.
1. Shalat Berjamaah dan Itikaf di Masjidil Haram/Nabawi
Shalat lima waktu secara berjamaah di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi adalah amalan yang sangat dianjurkan, bahkan memiliki keutamaan berlipat. Rasulullah ﷺ menyebut bahwa satu kali shalat di Masjidil Haram nilainya seperti 100.000 kali shalat di masjid lainnya, dan shalat di Masjid Nabawi setara dengan 1.000 kali shalat biasa.
Tak hanya shalat, duduk berdiam (itikaf) di dalam masjid setelah shalat juga sangat dianjurkan. Cukup duduk sambil berdzikir atau membaca Al-Qur’an, maka waktu yang dihabiskan itu dicatat sebagai ibadah penuh pahala. Banyak jamaah sering lupa bahwa sekadar duduk dengan niat ibadah di masjid pun punya nilai yang besar di sisi Allah.
UAH sering mengingatkan jamaah untuk tidak tergesa-gesa keluar masjid setelah shalat. “Luangkan waktu minimal 15 menit setelah shalat. Di situlah Allah sering limpahkan ketenangan,” ujar beliau. Itikaf juga menjadi sarana memperbaiki hubungan hati dengan Allah, melepas kepenatan dunia, dan memperdalam rasa syukur.
Maka, jika memungkinkan, prioritaskan waktu-waktu shalat di masjid dan maksimalkan momen tersebut untuk mengikat hati dengan tempat paling suci di muka bumi.
2. Membaca dan Tadabbur Al-Qur’an Setiap Hari
Salah satu amalan harian yang bisa dilakukan kapan pun adalah membaca Al-Qur’an. Namun yang lebih utama adalah tadabbur, yakni merenungi dan memahami maknanya. Banyak jamaah terjebak pada target jumlah bacaan, padahal satu ayat yang direnungi dengan hati lebih baik dari banyak ayat yang dibaca tanpa penghayatan.
Tanah Suci adalah tempat turunnya wahyu. Membaca Al-Qur’an di tempat tersebut bukan hanya ibadah biasa, tapi juga menjadi bentuk penghormatan terhadap Kalam Allah di tempat yang dulu menjadi saksi turunnya wahyu kepada Rasulullah ﷺ.
UAH menganjurkan agar setiap jamaah memiliki target pribadi, misalnya satu juz per hari, atau satu surat yang dipahami maknanya. Bahkan, beliau sering membimbing jamaah untuk mentadabburi surat-surat pendek, karena kandungannya yang padat dan menyentuh.
Bawa mushaf saku atau gunakan aplikasi digital. Sisihkan waktu setelah Subuh atau menjelang tidur. Amalan ini tidak hanya akan menenangkan hati, tetapi juga memperkuat hubungan ruhani dengan Allah sepanjang perjalanan umrah.
3. Sedekah Kecil yang Berdampak Besar
Di Tanah Suci, sekecil apa pun kebaikan yang dilakukan akan berlipat nilainya. Termasuk dalam hal sedekah. Tak perlu menunggu kaya atau memiliki uang besar. UAH mengingatkan bahwa senyuman tulus, membantu jamaah lain, atau membelikan air mineral untuk sesama pun termasuk sedekah yang bernilai besar.
Banyak jamaah merasa bahwa sedekah hanya untuk mereka yang mampu secara finansial. Padahal, memberi satu butir kurma kepada orang yang lapar, menyisihkan uang jajan untuk kotak amal, atau menyumbangkan tenaga untuk membantu orang tua menyeberang jalan di sekitar Masjidil Haram pun termasuk sedekah.
Selain membawa keberkahan, sedekah juga membuka jalan rezeki, menghapus dosa, dan melapangkan hati. Bahkan, sedekah bisa menjadi penghapus kesalahan yang tak kita sadari.
UAH sering mengutip hadits Rasulullah ﷺ, “Sedekah itu memadamkan dosa sebagaimana air memadamkan api.” Maka, jadikan sedekah sebagai amalan harian selama di Tanah Suci, sekecil apa pun bentuknya.
4. Zikir dan Doa di Titik-Titik Mustajab
Tanah Suci menyimpan banyak tempat mustajab untuk berdoa—Multazam, Hijir Ismail, Maqam Ibrahim, Raudhah, hingga antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad. Sayangnya, banyak jamaah tak memaksimalkan tempat ini karena terlalu sibuk mengejar foto atau merasa terburu waktu.
Padahal, berdzikir dan memanjatkan doa di tempat-tempat mustajab adalah kesempatan emas yang sangat langka. Di sana, pintu langit seolah terbuka lebih lebar, dan setiap permintaan yang tulus memiliki peluang lebih besar untuk dikabulkan.
UAH menganjurkan agar setiap jamaah menyiapkan daftar doa pribadi jauh sebelum berangkat. Tuliskan doa untuk diri sendiri, orang tua, keluarga, dan umat Islam. Doa yang tersusun dengan hati akan lebih mengena dan terarah saat dipanjatkan di tempat mustajab.
Jadikan zikir sebagai kebiasaan sepanjang perjalanan—saat berjalan ke masjid, dalam antrean, atau bahkan saat istirahat. Kalimat Subhanallah, Alhamdulillah, Laa ilaha illallah, dan Allahu Akbar adalah dzikir ringan yang bisa membuka pintu surga.
5. UAH: “Amalan Kecil Tapi Konsisten, Besar Nilainya”
Dalam banyak kajian, UAH selalu menekankan pentingnya konsistensi dalam ibadah. Amalan kecil yang dilakukan terus-menerus lebih dicintai Allah dibanding amalan besar tapi sesekali. Umrah adalah saat terbaik untuk membentuk kebiasaan itu.
UAH sering mengingatkan: “Jangan remehkan amalan kecil. Sebab dari situlah Allah membesarkan nilainya.” Bahkan membuang sampah dari jalan, mendoakan orang lain diam-diam, atau menahan amarah saat antre adalah bentuk ibadah yang bernilai tinggi.
Tanah Suci bukan hanya tempat memperbanyak ibadah, tapi juga tempat membentuk karakter baru yang lebih tenang, pemaaf, sabar, dan disiplin. Inilah inti dari “amalan kecil tapi konsisten”—bukan hanya menghasilkan pahala, tapi juga membentuk diri menjadi pribadi lebih dekat kepada Allah.
Maka, fokuslah pada keberlanjutan ibadah. Jangan sekadar semangat di awal, tapi bangun rutinitas yang bisa terus dibawa pulang ke tanah air.
6. Panduan Membagi Waktu Agar Optimal Selama Ibadah
Waktu di Tanah Suci terasa singkat. Maka, membagi waktu dengan bijak sangat penting agar semua ibadah utama dan amalan tambahan bisa dilakukan dengan tenang dan khusyuk. UAH sering menyarankan jamaah untuk menyusun jadwal pribadi harian.
Mulailah pagi dengan shalat Subuh berjamaah, lanjutkan dengan dzikir dan membaca Al-Qur’an. Sore hari bisa digunakan untuk thawaf sunnah atau duduk itikaf. Malam hari adalah waktu terbaik untuk tahajud dan doa panjang di Masjidil Haram atau Nabawi.
Sediakan waktu istirahat yang cukup agar tubuh tetap bugar. Jangan terlalu memaksakan diri hingga kelelahan, karena ibadah butuh fisik yang stabil. UAH menyarankan untuk selalu menjaga hidrasi, makan teratur, dan mengenali batas kemampuan pribadi.
Dengan jadwal yang seimbang antara ibadah wajib, amalan sunnah, dan istirahat, jamaah bisa menjalani ibadah dengan penuh semangat dari hari pertama hingga kepulangan