Umrah adalah ibadah mulia yang menjadi impian banyak Muslim. Namun, tidak sedikit jamaah yang berangkat tanpa persiapan yang matang, sehingga terjebak dalam kesalahan-kesalahan umum yang mengurangi kualitas ibadah. Ustadz Adi Hidayat (UAH) menekankan pentingnya menjadikan umrah sebagai perjalanan ruhani, bukan sekadar aktivitas fisik atau wisata religi. Artikel ini akan mengulas lima kesalahan yang sering dilakukan jamaah umrah, lengkap dengan solusi dan pesan pembinaan dari UAH agar setiap langkah di Tanah Suci bernilai ibadah yang tinggi.

 

1. Salah Niat: Lebih Fokus Wisata daripada Ibadah

Kesalahan pertama yang sering terjadi adalah tidak meluruskan niat sejak awal. Banyak yang berangkat umrah karena ikut-ikutan, ingin konten sosial media, atau hanya tertarik pada destinasi eksotis. Padahal, umrah adalah ibadah yang membutuhkan keikhlasan dan niat yang benar: hanya mengharap ridha Allah.

UAH mengingatkan, “Jangan sampai kaki sudah sampai ke Makkah, tapi hati masih tertambat pada dunia.” Niat yang keliru akan berdampak pada sikap selama di Tanah Suci. Ibadah jadi tergesa-gesa, pikiran terpecah antara belanja dan ziarah, dan waktu terbuang pada hal-hal yang tidak bernilai akhirat.

Solusinya adalah memperbanyak doa sebelum berangkat: agar hati dikuatkan dan niat selalu dijaga. Bahkan sebaiknya menulis niat ibadah secara tertulis lalu membacanya setiap pagi saat di Tanah Suci. Dengan niat yang lurus, seluruh perjalanan umrah akan menjadi persembahan terbaik kepada Allah.

 

2. Meremehkan Adab di Masjidil Haram dan Nabawi

Kesalahan berikutnya adalah kurangnya kesadaran akan adab di dua masjid suci: Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Beberapa jamaah berbicara keras, bermain ponsel di area shalat, bahkan mengambil foto tanpa memperhatikan kekhusyukan orang lain. Ini bukan hanya pelanggaran etika, tetapi juga mengganggu kekhusyukan jamaah lain.

Padahal, kedua masjid ini adalah tempat penuh kemuliaan. UAH menyampaikan bahwa adab adalah bagian dari ibadah. Duduk tenang, merendahkan suara, menjaga pandangan, serta menghormati para petugas dan jamaah lain merupakan bentuk penghormatan terhadap rumah Allah.

Salah satu cara menghindari kesalahan ini adalah mengikuti manasik yang membahas adab secara khusus. Jamaah juga sebaiknya mengingat bahwa di Tanah Suci, amal kecil bisa berlipat ganda nilainya—baik maupun buruk. Maka berhati-hatilah dengan setiap ucapan dan sikap.

 

3. Terlalu Sibuk Belanja Hingga Lupa Agenda Utama

Tidak salah jika jamaah ingin membawa oleh-oleh untuk keluarga. Namun, jika belanja menjadi fokus utama hingga mengalahkan ibadah, maka hal itu menjadi kesalahan besar. Banyak yang menghabiskan waktu berjam-jam di toko, namun hanya beberapa menit untuk membaca Al-Qur’an atau shalat sunnah.

UAH menasihati, “Kalau kamu habiskan waktu di toko, maka Ka’bah hanya jadi latar belakang, bukan tujuan utama.” Ini adalah teguran yang mengena. Umrah bukan perjalanan konsumtif, tapi perjalanan spiritual. Fokus utama adalah memperbanyak ibadah, bukan memburu barang diskon.

Solusinya adalah mengatur waktu belanja di awal atau akhir perjalanan, serta menetapkan batas waktu. Belanja secukupnya, karena oleh-oleh terbaik dari umrah adalah perubahan diri yang lebih taat dan lembut hatinya.

 

4. Kurang Persiapan Ilmu Sebelum Berangkat

Kesalahan lain yang sangat krusial adalah minimnya bekal ilmu. Banyak jamaah tidak memahami rukun dan sunnah umrah, tidak tahu doa-doa mustajab, atau tidak bisa membedakan antara hal-hal yang membatalkan dan yang hanya makruh.

UAH sering menekankan bahwa ilmu sebelum amal. Tanpa ilmu, ibadah bisa salah. Bahkan niat yang baik pun bisa jadi keliru jika tidak diiringi pemahaman yang benar. Oleh karena itu, penting mengikuti manasik dengan serius, membaca buku panduan, dan mendengarkan kajian umrah dari sumber yang terpercaya.

Persiapan ilmu juga mencakup memahami sejarah tempat yang dikunjungi. Ketika kita tahu bahwa di tempat inilah Nabi ﷺ pernah berdoa atau bertempur, maka ziarah akan terasa lebih dalam dan menggetarkan jiwa.

 

5. UAH: “Jangan Biarkan Umrah Hanya Jadi Perjalanan Biasa”

Pesan yang paling menggugah dari UAH adalah peringatan bahwa umrah bisa jadi ibadah besar, atau sekadar perjalanan biasa tergantung niat dan kesungguhan hati. Banyak orang pulang dari umrah dengan tas penuh oleh-oleh, tapi hati yang kosong. Sebaliknya, ada yang pulang dengan tas ringan, tapi membawa pulang ruh yang lebih bersih dan iman yang lebih kokoh.

UAH mengajak para jamaah untuk menjadikan umrah sebagai titik balik kehidupan. Bukan sekadar menunaikan ritual, tapi benar-benar merenung dan memperbaiki diri. Ia berkata, “Kalau pulang dari umrah kamu masih seperti dulu, maka kamu hanya jalan-jalan mahal. Tapi kalau pulang dengan hati yang baru, maka itulah umrah yang mabrur.”

Itulah mengapa penting untuk menyiapkan hati, memperbanyak istighfar, dan membuat daftar target ibadah sebelum berangkat. Jadikan umrah sebagai transformasi, bukan sekadar dokumentasi.

 

6. Solusi dan Antisipasi untuk Jamaah Pemula

Bagi jamaah pemula, semua kesalahan di atas bisa dihindari dengan tiga langkah utama: niat yang lurus, ilmu yang cukup, dan manajemen waktu yang baik. Jangan ragu untuk bertanya kepada pembimbing, mencatat hal-hal penting dalam buku kecil, dan menyusun agenda harian agar fokus ibadah tetap terjaga.

UAH menyarankan agar setiap jamaah membawa “target ibadah harian” seperti minimal satu juz Al-Qur’an, 1000 istighfar, dan 2 rakaat shalat tahajud setiap malam. Dengan begitu, perjalanan umrah menjadi terarah dan bernilai.

Gunakan momen di Tanah Suci untuk benar-benar berdialog dengan Allah. Jangan sia-siakan setiap detik di tempat yang doanya paling mustajab. Karena mungkin, itulah satu-satunya kesempatan kita berdiri di depan Ka’bah dan meminta dengan sepenuh jiwa.